Tampilkan postingan dengan label PUISI NARASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI NARASI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Agustus 2014

Tiga tiga mata perkasa kepunyaan raksasa
Tiga tiganya adalah kanan kiri dan di antara
Tiga tiga mata tak memberi tenaga ekstra
Tiga tiganya sama semua menatap muka

Dua dua mata cermin presisiNya
Dua duanya membagi muka sama rata
Dua dua anggota berdampingan semeja
Dua duanya ngantor pagi pulang senja

Dua dua mata meski bekerja bebas menari
dua dua tadi biasa menggoda sana sini
Tiga tiga kesempatan sempat saling kait tali
tiga tiga kali hilang tautan lepas kendali

Tiga dua malam tak akan terlihat gelap
jika tiga dua bulan tak henti menatap
Karena tiga dua saat saja, mata bisa serap
tiga dua biji sisa cahaya penerang gelap

Dua tiga malam tak lagi terasa berat
jika dua tiga musim telah habis terlewat
Dua tiga malam terjaga dalam munajat
agar dua tiga musim terang didapat

Jumat, 21 Februari 2014


Kepul asap tipis nongol sedikit sedikit
dari para muda,
yang berdiri pada bibir jalanan kota

Biasanya botol-botol biru ikut serta
meramaikan kepulan asap mereka
Namun kali ini tidak,
asap saja yg mengiringi di sana

Senyum muda-muda menguning menertawai isi dunia
Lalu sesekali tutur mereka mancur,
keluar comberan kata-kata

Dua tiga jam berlalu, tibalah senja
Berlanjut petang gelap segera
Asap mereka menebal,
putih pekat merebak aroma

Senyum mereka masih bersanding tawa
Seolah tiada habis kelucuan dunia
Angin sepoi yang kebetulan lewat, membawa aura canda di sana
Ke sudut-sudut jalan sampai...

Menyentuh telinga Paman Hoca

Telinga Paman Hoca lalu mendatangi sumber suara
Sesampainya di sana geleng-geleng paman

Marahnya disambut tawa,
Himbaunya dijamu comberan,
yang sedari tadi masih muncrat dari tutur mereka

Baunya tak sebusuk tadi sore namun tetap bau.
Paman hoca kini mual-mual
Telinganya nyeri lalu muntah-muntah pada kedua mata

Inilah yg disedihkan Paman
Beliau takut nanti busuk comberan jadi wabah

Maka didekapnya mimpi untuk jauhkan
jutaan jiwa dari minum comberan
Agar tak banyak korban tertular
Mual-mual minum comberan!

Kamis, 16 Januari 2014


Tahukah kamu tentang lautan, yang dangkal dan yang dalam?
Laut dangkal itu indah, 
Banyak ikan dan terumbu karang
Sehariannya dicumbu orang, apalagi daerah kepulauan
Seperti Indonesia,,,, 
dengan Balinya,,,,

Laut yang dangkal masih menempel pada daratan,
Tangan kanannya memegang lautan,
Kirinya menggenggam pasir pantai,
Ombak di sana hanya deras ketika petang
Selebihnya tenang, damai...

Minggu, 19 Mei 2013

 

Sudah lama rasa rindu pada teras ruang tamu,
bilik pertama sebelum pintu
Di mana kawan saudara hangat bertemu

Ketika air hujan bertemu barisan tanah halaman
Anak itu girang berlari pada jendela tepian,
Di belakang besi senyum berseri.
Guntur bersusulan listrik mati,
dedaunan menari mengganti televisi

Dari ruang tamu dibuka pintu
Basah teras bersama bulir debu,
disepak masuk ke antara kuku kuku

Guntur kembali datang kali ini bersusulan suara ibu,
melarang hujan bertemu karena terlalu abu abu
Kaki terhenti pada bulir bulir di tepi,
senyumnya tak hilang, hanya berkurang

Kaki kaki kecilnya mencari ke kanan ke kiri
Di antara ulat bulat dan rumput lebat
tanpa terlewat lingkup tanah liat
ada aliran yang siap dihambat

Sudah lama rasa rindu pada teras ruang tamu,
bilik pertama sebelum pintu
Tak sabar hati
Untuk segera kembali bertemu

Rabu, 13 Maret 2013


Si anak ini senyumnya terbalik tak suka

Ia tak puas akan guru muda di hadapannya
Begitu pun kawan-kawan lain, ‘bosan Pak’

Hingga bel tiba suasana terjaga, lesu tanpa tenaga
Segera kukemas tas, bersama upah harianku
Ke halte lalu pusat kota

Sesampainya kuhampiri sebuah kedai,
Menyapa pemilik lalu memilah-milah bunga
Kemudian tiba pada satu mawar
Duri dan warnanya sama sama tajam
Segera tangan menyambar, muka bersinar

Lalu berlanjutlah perjalanan,
Kali ini pulang, karena lapar datang
Memotong, menumis,  memasak
Santap satu sepiring nasi,
santap dua semangkok kari

Tangan kembali beraksi semua tercuci
Segelas teh dan hangat cengkrama
Perutku tersenyum lantaran sudah terisi
di seberang lorong kasurku menanti,
Sembayang, cuci gigi, masuklah dalam mimpi

Mimpi indah bertemu dua bidadari
Cantik, riang menghibur hati…

Esoknya aku kembali bernyanyi
Di antara murid-murid kemarin,
Kali ini suasana berganti,
tiada lagi bosan yang sepi
Seperti diriku, mereka suka hari ini 

Rabu, 09 Mei 2012


BANA ENDONEZYA’YI GERİ VER! 


Endonezya’nın yarınları, yani iki yüz milyon açık ağzı olacak
Endonezya’nın yarınları, yani on beş watlık lambalar,
bir kısmı beyaz bir kısmı siyah, vardiyalı çalışacaklar
Endonezya’nın yarınları, yani gece gündüz kazın yumurtası gibi
top ile masa tenis maç yapılacaktır
Endonezya’nın yarınları, yani yüz milyon nüfus olduğu için batan Java adasıdır

Minggu, 06 Mei 2012



Kenapa di luar jauh sini
Pikiran pecah mengapi
Api ilusi namun seakan terjadi
Mengotori, mencemari, menjamahi
apa yang tadinya tentram rapi

Jumat, 06 Januari 2012



Aneh sekali pagi ini
Sesampainya di gerbang tiada pun yang berdiri
Aku berhenti lalu pergi mencari
Satpam pegawai serta siswa siswi

Jumat, 16 Desember 2011



Bir güzel gecesinde geldin bana
Havayla kokunu vardı burada
Kapıyı çalıp girdin, yavaş buraya
Buradasın! Bildim!

Rabu, 23 November 2011


Perdamain itu hidup berlingkup
serasi selaras berdampingan bersamaan
Mimpi indah jauh tak tersentuh
Semua menginginkan itu, begitu menggebu
Namun entah di mana pintu dituju
Pemimpin, tentara dan media
terkecam bersalah seutuhnya

Minggu, 20 November 2011

Ah kata cinta itu telah meracuni semua
Diriku, dirimu dan juga dunia
Aku masih muda saat itu
Umur dua windu bukanlah waktu
di mana akalku bisa bekerja utuh

Kamis, 21 Juli 2011




Malang merindu kenang mengadu
Larang sendu ganyang pilu
Kenyang haru sandang merdu

Rabu, 04 Mei 2011



Kayunya masih merah menyala
membara membawa hangat suasana.
Malam tadi mereka bermain menjadi dua,
panas memancar cahaya

Jumat, 25 Maret 2011



Belajar apa sebenarnya belajar?
Apa ada guna?

Rabu, 09 Maret 2011



Ketika sampai di persimpangan itu
Ku sentak rem dan berhenti melaju
Selalu di simpangan itu pikiranku buntu
memilih yang mana hendak dituju

Selasa, 08 Maret 2011



Semakin berjalan kaki
Semakin mengenal negeri ini
Semakin pula kita dapati
gedung-gedung menjulang tinggi

Sabtu, 05 Februari 2011

Biar saja tikus benci
mencaci tiada henti
mengiris iris hati
Biar saja sampai nanti
tikus berhenti sendiri
Wahai malaikat Izrail
Jika nanti datang si bedil
menembak lalu mengambil
nyawa dari kancil

Minggu, 30 Januari 2011

Kenapa buru buru
Atas nama status pemburu
Kau tembakan peluru
Tanpa pikir dahulu
Rumahnya tingkat
Megah ala barat
Tapi masih saja bersemangat
Timbun harta peras rakyat