Selasa, 26 April 2011

Hari ini adalah salah satu hari terberat saya. Bukan karena banyaknya kegiatan yang saya ikuti melainkan musibah yang menimpa. Sial sungguh sial hari ini saya harus kehilangan dua alat penting yang selama ini menjadi penunjang kelangsungan hidup saya sebagai siswa SMA. Adalah handphone yang menjadi pembuka luka lara. Tepat ketika saya dan beberapa kawan sedang bermain musik di sebuah studio, lima belas kilometer dari tempat tinggal saya, pesawat telepon saya tiba-tiba terlepas
dari genggaman. Awalnya tak ada rasa khawatir melihat benda tersebut jatuh dari ketinggian satu setengah meter. Namun setelah mengetahui keadaan parahnya baru saya sadar bahwa saya telah kehilangan salah satu benda paling vital dalam kehidupan saya. Layar benar-benar mati meskipun masih ada getaran ketika dua SMS masuk.

Satu,, dua,, tiga,, empat,, dan akhirnya lima jam berlalu. Semakin lama semakin terasa susahnya hidup tanpa handphone. Andai saja saya baru mengenal handphone dua atau tiga bulan yang lalu, sudah pasti rasa membutuhkan itu tak akan pernah dirasa. Entah kenapa saya merasa seperti orang hilang yang terdampar di sebuah pulau kecil tanpa bekal memadai. Karena tak tahan akhirnya saya putuskan untuk menyambah dunia maya. Dengan maksud untuk menghubungi beberapa teman yang sepertinya telah, dengan sangat tidak sengaja, saya abaikan SMS-nya.

Kejutan kedua datang tepat ketika ekspektasi akan sebuah keasyikan dunia maya datang. Tak disangka modem juga tak mau disambungkan. Tidak ada sedikit pun tanda akan jaringan pada panel sinyal. Mustahil bila perusahaan penyedia layanan mengalami masalah. Sudah pasti modem sayalah yang rusak. Saya baru ingat bahwa beberapa hari yang lalu ketika perjalanan pulang ke Purwokerto, saya dengan terpaksa harus menduduki tas punggung saya. Modem saya pasti menjadi salah satu korban pendudukan tas punggung. Yah mau bagaimana lagi musibah memang musibah. Kini yang bisa saya lakukan hanya berserah diri pada yang kuasa. Pasti ada sesuatu di balik musibah ini yang semoga saja dapat menjadi pelajaran yang berarti untuk masa depan.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar