• The Magic of Kadikoy - “Iste Boyle, Her Sene Boyle!” That was written on the banner shown by the fanatic fans of Fenerbahce just after Cuneyt Cakir blew his final whistle last ...
    1 tahun yang lalu

Rabu, 15 Juni 2016

Imajinasi kebebasan setelah aku tumbuh dewasa tidak seseru kebebasan yang aku tahu dahulu. Ketika masih kecil, aku sering membayangkan kebebasan adalah bisa terbang ke angkasa atau bisa berlari seharian di alam liar. Sekarang pikiranku mentok di bagaimana bisa senang-senang di waktu luang atau bisa seenaknya berbicara seenaknya tanpa merusak perdamaian. 

Kebebasan yang aku damba dahulu sebenarnya egois karena hanya ada aku sendiri di sana. Ia tidak pernah memikirkan keterlibatan orang lain yang mungkin bisa terbang bersamaku. Selain itu ia juga ceroboh karena harimau alam liar yang bisa memangsaku tak pernah diikutsertakan. Namun bagaimana pun juga, imajinasi itu tetap baik hati karena mau membawaku ke mana saja. Dan imajinasi itu juga penuh perlindungan karena ia tidak mengijinkanku membayangkan mala bahaya yang bisa menimpa. 

Tetapi kemudian kita dimasukan ke sekolah untuk belajar menjadi manusia yang baik dan tidak ceroboh. Tujuannya agar kita bisa hidup lebih lama dan tidak mati konyol karena mencoba terbang atau berlarian sendirian di tengah hutan. Misi pertama sekolah adalah mengusir imajinasi kebebasan liarku pergi. Aku diajarkan bahwa gravitasi bisa menjatuhkan makhluk hidup apapun yang tak bersayap. Lalu aku juga diberitahu bahwa selain ada harimau, ada ratusan kuntilanak berkeliaran di dalam alam liar sana. Nyaliku menciut, menghimpit imajinai kebebasan kecilku pelan pelan sebelum akhirnya terusir pergi.

Misi kedua sekolah adalah menawarkan konsep baru tentang kebebasan. Aku diajarkan bahwa waktu tidak bisa ditukar dan akan habis pada suatu hari. Jika tak belajar dan bekerja, maka sia sialah waktu hidup seorang manusia, Lalu aku juga diberitahu bahwa selain diriku sendiri, ada jutaan budaya dan pemikiran orang lain yang harus aku pikirkan. Jadi jika semua manusia berpikir seenaknya maka hancurlah perdamaian dunia. 

Begitulah kemudian imajinasi kebebasan ingin terbang menjadi sekedar keinginan untuk punya waktu luang. Imajinasi untuk berlarian di alam liar menjadi sekedar keinginan untuk bisa berbicara seenaknya tanpa merusak perdamaian.


Senin, 25 April 2016

Tiga tahun setelah upacara kelulusan SMA, aku, Faiq dan Lindi masih rajin ngobrol dalam percakapan digital. Kami hanya bisa bertemu langsung setahun sekali karena keberadaan kampus kami bertiga yang terpisah samudra. Faiq dan Lindi sebenarnya sama-sama kuliah di UNDIP, jadi mereka masih bisa bertemu di Semarang. Hanya diriku saja yang jauh merantau ke Turki. Waktu itu aku sedang berada di tanah air dan sedang dalam perjalanan ke Semarang. Lawatanku tak akan berlangsung lama, hanya dua malam saja. Ibu tidak rela anak sulungnya lama-lama bermain di luar kota Purwokerto.

Karena jarang pergi ke Semarang, aku sangat berharap akan ada sambutan ramai dari teman-teman SMA yang ada di sana. Dengan harapan tinggi melalui grup angkatan, mereka semua kusapa.

"Guys kumpul yuk, aku ke Semarang sore ini" ketikku di grup angkatan

Sembari menunggu tanggapan dari grup, jemariku segera mencari nama Faiq

Gagas: ik jemput di alfamart jam 6 sore.

Faiq: alfamart Purwokerto?

Gagas: janc******k!!!

Faiq: alfamart mana nyet?
.....................................

Bus yang kunaiki menurunkanku dengan sopan tepat di depan alfamart terminal Banyumanik Semarang atas. Waktu menunjukan pukul 6.15 sore, senja sudah turun mengantar matahari pulang. Terminal tampak ramai dipadati ratusan pegawai yang berusaha pulang. Lampu jalanan dan warung-warung satu per satu menyala. Meski redup, sinar mereka sudah cukup menerangi tempat pemberhentian angkutan umum itu.

Dari kejauhan nampak sesosok pemuda di atas jok motor yang sudah hampir setahun tak kujumpai. Dia terlihat sedang menelpon seseorang, dan tepat saat itu juga teleponku berbunyi. Aku sengaja mendiamkan untuk memberi kejutan.

"Heh janc****k!" Seruku menepuk punggungnya.

Tanpa disangka sosok itu membalikan badan dan memberi jawaban. Tubuhku terlempar jauh menerima kepalannya. Sambil membenarkan diri mencoba berdiri, aku tersadar kalau telepon genggam yang masih erat di tanganku masih menyala menunjukan tanda telepon masuk dan nama Faiq. Sial!

"Yang bener mas kalau manggil-manggil! Jancuk bathukmu!"

"Maaf mas saya kira anu..."

"Gak tau saya siapa sampeyan!!!"

"Ngapurane lah ya mas, sori banget!"

"Gas...!" panggil seseorang dengan sepeda motor lain dari jauh.

Aku segera berpaling dari mas di atas motor itu dan bergegas
Menghampiri Faiq yang asli.

"Heh celeng, punya hape tuh diliat! ada telepon diangkat! Kamu kira aku dukun bisa nyari kamu di terminal gelap-gelap gini?"

"Lah percuma kalau aku angkat ntar kamu tutup"

"Eh kurang ajar ya, aku wis rajin beli pulsa sekarang, banyak yang harus dihubungi"

"Yo semoga ada yang cepet mau"

"Celeng...!"

Faiq segera membawaku menyusuri keramaian jalan provinsi yang mengiris daerah Semarang atas jadi dua. Kanan kawasan mahasiswa dan kiri pemukiman warga. Tujuan kami pertama adalah warung nasi kucing. Kami belum makan malam, dan ingin menghemat untuk kegiatan esok. Setelah selesai makan, kami beranjak ke kosan Faiq. Dari sana kami akan menghubungi kawan SMA yang lain.
.............................

"Gas gak ada yang bisa kalau kamu ajak naik ginung sekarang. Cuma Lindi aja."

"Lah kan udah dikabarin dari tadi siang pas aku masih di bus. Ini udah jam 8 malam"

"Kamu tadi cuma ngajak kumpul, bukan naik gunung!"

"Lindi mau naik ke gunung Ungaran?"

"Iya dia mau, tapi masa cuma bertiga?

"Malah seru cuk, cuma bertiga menaklukan gunung Ungaran, biar yang gak mau ikut pada rugi sendiri..."

"Menaklukan ndasmu, itu cuma gunung pendek."

"Iyoo mas pendaki yang sudah menaklukan gunung Arjuna"

"Dasar celeng, makannya yang masuk akal kalau ngajak-ngajak. Kan kalau gini kita gak jadi kumpul rame!"

"Yo... besok pas turun gunung kita kumpul sama yang lain"

Tak lama kemudian Lindi datang dengan mobil suzuki splashnya.

"Gagas....! Ih parah, lama banget kita gak ketemu, udah setahun!"

"Baru setahun liiiin.." jawabku dengan nafas sesak

Lindi memelukku sangat erat. Dia sangat ekspresif sejak SMA dulu. Perasaan apapun, entah amarah maupun rindu selalu keluar dari gerak tubuhnya. Ia tak sungkan untuk berteriak marah-marah jika emosinya tersulut. Seingatku, ia pernah memarahi satpam asrama SMA karena terlalu bertele-tele menanyakan dari mana saja ia sampai larut malam. Pak satpam yang tadinya menyelidiki lalu keok tak kuat meladeni teriakan Lindi.

Kami kemudian berkemas-kemas dan berangkat ke gunung Ungaran jam 10 malam. Tujuan pertama adalah pos pendakian di lereng selatan gunung Ungaran. Suzuki splash milik Lindi melaju mantap mengarungi tanjakan lereng gunung Ungaran. Malam itu Lindi mempercayakan kemudi padaku. Ia lelah karena sudah seharian mengemudi. Lindi adalah supir yang mahir dengan koleksi jam terbang tinggi. Mobil itu sendiri sudah dua tahun berada dibawah komandonya. Selama itu, baru dua kali dia menabrak. Satu di dalam garasinya, dua di pekarangan pondok pesantren milik tantenya.
...........................

Setelah selesai urusan administrasi dengan pihak pengelola taman nasional, kami berkumpul untuk berdoa dan menentukan ketua rombongan. Faiq mendapat kehormatan malam itu. Selama 7 jam mendaki nanti, ia akan berada di depan memimpin rombongan. Kami berangkat dari titik 1100 mdpl, dan akan berjalan menuju ke puncak yang berada pada kisaran ketinggian 2050 mdpl. Kami mulai pendakian pada pukul 11 malam dan diperkirakan akan sampai subuh nanti.

Udara dingin malam itu sempat mengecilkan nyali kami. Namun setelah satu jam berjalan, badan kami mulai berkeringat. Panas yang timbul berhasil mengusir kedinginan yang ada. Di dua jam pertama, kami berjalan menyusuri deretan pepohonan tinggi yang gelap. Kami hanya dibantu oleh tiga buah senter kepala dan tongkat. Di sebelah kanan adalah jurang dalam dan di sisi lain adalah pepohonan lebat.

Selama dua jam yang gelap itu, hanya terdengar suara angin dan derap langkah kami. Kondisi ini sudah cukup membahagiakan, karena jika ada suara lain kami pasti akan segera memutar arah pendakian. Di antara kesunyian itu, sebuah percakapan kecil terjadi di antara kami.

"Gelap, sepi! Eh Lin, kalau jatuh ke kanan gimana ya?"

"Diem gas, aku pukul pake tongkat nih!aneh-aneh aja sih" ancam Lindi kesal

"Ya ya. Ngomong-ngomong ada setan gak ya di ...."

"Diem nyet, jangan keterlaluan di alam!" Teriak Faiq penuh penekanan.

"Njih mas pendaki gunung Arjuna.. eh ada suara! Sssssst, diem sebentar semua.. coba kalian denger!" Desakku

Kami semua berhenti sejenak, mengamati sekitar. Tidak ada bunyi selain teriakan jangkrik yang bersautan. Tak lama setelah diam, tongkat Lindi terbang mengarah ke tanganku.

"Aduh, sakit Lindi!"

"Gaaaaaaas!!! Bauuuuk!!!"

"Bajinguk, bocah ngentutan." Teriak Faiq.

"Hehe, tak kira suara apa tadi"
.................

Setelah dua jam berada di hutan gelap, kami memasuki kawasan kebun teh yang relatif lebih terang. Di sini, langit memamerkan ratusan bintang. Melengkapi kemeriahan langit, bulan turut datang di atas sana. Jam menunjukan pukul 01.30. Sudah dua setengah jam sejak mengawali pendakian. Kami mengambil istirahat sejenak sambil menikmati suguhan alam yang jarang terjadi.

"Makasih ya gaes udah mau aku ajak ke sini"

"Sama sama Gas, aku juga seneng bisa ndaki beneran" jawab Lindi.

Faiq hanya diam, ia tidak terbiasa dengan percakapan melankolis yang aku buka. Tapi dalam diamnya, matanya terbuka melihat langit. Mungkin ia teringat akan seorang gadis yang pernah hadir di hatinya dulu.

"Udah ik, masih ada yang lain" sautku.

"Diem celeng, ini aku sedang mencoba menikmati langit! Ini bagian paling indah dari pendakian"

"Injih, mas pendaki gunung Arjuna"

Tangan Faiq segera bergerak mencari batu kerikil untuk dilempar. Gerakannya penuh perhitungan. Benda kecil itu dalam hitungan detik sampai mengenai kepalaku.

"Ah KDRT nih kalian, tadi dipukul tongkat sekarang kerikil" kataku

"Nih satu lagi...!"

"Eh ampun ampun ik"

"Hahaha, udah Gas. Faiq jangan diganggu kalau lagi galau" kata Lindi.

"Iya iya lin, kamu masih kuat kan jalan?"

"Hmmmm, sebenernya aku punya penyakit gas."

"APA? Kenapa gak bilang dari tadi. Penyakit apa?" saut Faiq yang juga mewakili pikiranku.

"Aku kalau dingin cepet pengin ke belakang"

"LINDII! aku kira penyakit serius." Jawab Faiq lega

"Iya ini serius Faiq..."

Hahaha
..........................

Jam menunjukan pukul 5.30 dan kami akhirnya sampai di puncak. Matahari muncul menyambut kedatangan kami di atas. Sinar jingga menerpa kami dan puluhan pendaki lain yang tiba sebelumnya. Kota Semarang nampak kecil dari kejauhan. Hamparan bangunan terlihat luas, menutupi hijau alam sekitar. Jalan setapak yang kami tempuh semalaman tampak kecil membentuk garis tidak beraturan. Melengkapi pemandangan itu berjejer awan putih beterbangan. Mereka bergerak pelan ke utara menuju kota Semarang.

Kami bertiga duduk terdiam menahan sakit kaki. Tujuh jam berjalan tanpa benar-benar berhenti memaksa kami untuk diam cukup lama di sana. Meski lelah, pemandangan indah dan kebersamaan itu lunas mengganjar semua keletihan.

"Gaes, kita harus lakuin ini lagi suatu hari nanti"

"Siiiiip deh, yuk kita foto dulu..."


Kamis, 14 April 2016

Kehidupan di negeri kami banyak berputar pada sepeda motor dan asap emisi. Siang adalah waktu mengais rezeki dan malam hanyalah keheningan sekejap yang akan segera diselimuti siang lagi.

Alam hijau yang ada terlalu suci untuk dihuni sehingga kami enggan datang mendekati. Surga hijau yang amat luas itu hanya jadi tempat rekreasi musiman dan tak bisa kami ikut sertakan di hati.

Sering kali kami mendengar berita terbakarnya beberapa hutan yang menyebabkan kebencian negara sekitar. Para tetangga tidak habis pikir dengan kelakuan kami yang membakar ribuan pohon hanya untuk dibuat menjadi meja dan kursi. Mereka kesal karena negeri kami tidak bersyukur dengan limpahan sumber kehidupan dari hutan yang ada. Sedangkan negeri mereka selalu gersang tanpa sedikit kerindangan.

Duhai kalian ketahuilah, kami tidak pernah dekat dengan hijau yang rimbun itu karena sesungguhnya kehidupan di negeri kami lebih banyak berputar di sepeda motor dan asap emisi. Siang adalah waktu mengais rezeki dan malam hanyalah keheningan sekejap yang akan segera diselimuti siang lagi.

Sore hari itu jalanan kota padat digenangi ratusan pengemudi roda dua. Para penunggangnya lelah karena setahun penuh dituntut mengais rezeki sembari menghirup asap emisi. Tak ada waktu berpesta karena masa depan anak harus jelas terencana. Tak hanya pendidikan, anak-anak mereka juga butuh berbagai perangkat elektronik dan tunggangan berkendara.

Lampu merah menghentikan laju para pengemudi roda dua. Pemberhentian itu menambah beban yang ada karena ia merampas waktu mereka untuk  bercengkerama dengan keluarga. Tak ada lagi dongeng wayang atau bahkan waktu makan malam bersama. Semua lelah begitu tiba di rumah, mereka harus tidur karena malam hanya datang sekejap saja.

Kehidupan di negeri kami terus berputar pada sepeda motor dan asap emisi. Siang adalah waktu mengais rezeki dan malam hanyalah keheningan sekejap yang akan diselimuti siang berikutnya.

Esok harinya satu dari ratusan roda dua tadi berubah menjadi mobil. Dan sore itu, jalanan kota digenangi ratusan motor dan sebuah mobil. Para pengemudi masih sibuk menyiapkan masa depan anak-anak mereka.


Kamis, 02 Juli 2015

Di zaman sekarang, semua peristiwa berlangsung begitu cepat dan padat. Tak jarang dari kita yang menganggap 24 jam tidak cukup untuk dijadikan satu hari. Hasilnya, orang menjadi terburu-buru untuk mengejar jam masuk kantor, mengejar deadline tugas atau mengejar jatuh tempo lainnya.

Waktu 24 jam yang biasanya luang harus ditukar dengan kesibukan sehari-hari. Hasilnya waktu luang hanya tersisa sedikit bahkan habis. Tak ada lagi jatah untuk lingkungan sekitar. Tidak ada lagi waktu untuk menyapa satpam kompleks atau memberi senyum pada orang lewat. Bahkan jarang sekali yg mau sekedar menyebrangkan seorang nenek di pinggir jalan.

Apakah waktu benar-benar menyusut atau kita yg tak sadar akan apa yg terjadi?

Tahun 1977 Psikolog bernama John Darley dan Dan Batson melakukan tes pada sejumlah mahasiswa. Dalam tes tersebut para mahasiswa diharuskan untuk melakukan pidato di ruang dekan yg terletak di gedung sebelah ruang kuliah mereka.

Ketika waktu pidato tiba, mereka yg telah tiba di gedung dekan dibagi menjadi 2 kelompok:
1) Mereka yg diberitahu kalau mereka telat dan harus segera menuju ruang dekan untuk pidato
2) Mereka yg diberitahu kalau masih ada waktu banyak sebelum giliran mereka tiba.

Sebagai tambahan dalam tes ini, John Darley dan Dan Batson menugaskan seorang relawan untuk berdiri dan pura-pura batuk  di lorong menuju ruang dekan di mana pidato akan berlangsung. Dan apa yg terjadi?

Dua informasi yg disampaikan sebelum pidato tadi punya pengaruh besar. 90% dari mereka yg diberitahu telat tidak menggubris orang batuk itu. Mereka berlari langsung menuju ruang dekan. Sebaliknya mereka yang diberitahu bahwa masih ada banyak waktu, berhenti dan membantu.

Fenomena ini kemudian diteliti lebih lanjut oleh Robert V Levine pada tahun 2003. Ia berkunjung ke beberapa kota di berbagai negara. Di sana ia mengamati kecepatan transaksi di bank, kecepatan rata2 orang berjalan, serta kepedulian pada sekitar. Ia mendapati bahwa:

1) Kota maju yg sibuk seperti New York dan Tokyo, kehidupannya berlangsung terburu-buru. Warganya nampak mengejar sesuatu dan cenderung tidak peduli dengan orang lain. Mereka tidak banyak membantu orang kesusahan di jalan atau bahkan untuk mengambilkan topi yg jatuh.

2)Kota yg tidak begitu maju seperti Mexico City, penduduknya sedikit lebih santai dan mereka lebih peka menyebrangkan nenek2 atau sekedar mengambil barang yg tidak sengaja terjatuh.

Dua penelitian ini sangat menarik untuk diamati. Di tes pertama para mahasiswa sebenernya punya waktu yg sama hanya informasi yg membuat mereka bersikap berbeda. Di tes kedua, warga di berbagai kota itu juga punya waktu sama 24 jam dalam sehari. Tetapi karena perbedaan kemajuan, sikap mereka jadi beda.

Waktu tidak benar benar-benar menyusut, hanya saja kita diberitahu oleh lingkungan sekitar bahwa kita akan telat dan harus bergegas. Mungkin saja mereka sebenarnya sedang mengetes kita.

Tidak sepadan jika kepedulian pada sekitar harus diabaikan karena keterbatasan waktu. Padahal waktu tidak pernah bertambah atau pun menyusut.

Sempatkan menyapa sekitar. Tidak perlu satpam kompleks, mungkin orang tua kita yang jauh di rumah, adik kita atau sahabat kita.

Selasa, 30 Juni 2015

Rainbow

This summer is quite different from previous ones. Its been raining a lot and the good news is lots of rainbows are forming afterwards. Beautiful views and of course the good thing is it cools the hot day out from summer. At the same time other rainbows also emerged but from different source. Following the legalization of homosexual marriage in the US, millions of rainbows around the world have their spirit pumped. They saw hope and opportunity to pronounce their sex preference that have long been rejected in almost everywhere around the world. Well of course this took the attention of many and as they have been rejected before, most refuse to agree with this "homo" way of life. I can say only few agreed because from 2045 of my facebook friends about 10-20 person said yes to "homos".

Here I would also like to express my feeling on homos. I am saying no to them with some reasons that are going to be explained. But before stating my views I would like to comment on these 10 to 20 persons positive opinions on homos. Their main support ideas were "Love is blind as anyone can love anything and anyperson", "They never want to be, they were just born like that naturally, by fate", "Homos are human and their way of life must be respected" and "Minorities must be supported instead of being oppressed". I find these comment a little worrying because it is fed up with unclear reasons. This is not good because "unreasonability" is the worst stupidity and may lead many other to become unreasonable. Lets take a look at them up close:

"Love is blind as anyone can love anything and any person"

This is just as insane as it looks like. They are talking about love as if it is a very narrow matter. Love is considered by homosexual and their supporters as a relationship between two different person. What about the family and the neighbours, aren't they worth loving? Or the nature that brought them up until now?

Homosexual that is trying to love some other homosexual is disappointing many of their relatives. Most of them I believed, come from a religious or at least a normal family. They have chosen to sacrifice their family's hope by choosing a homosexual way of life. They forgot how dependent they were to their parents when they were a child. And in just a matter of years during highschool or college they drop everything and said "You know what, I think I am a homosexual". The love from many members of the family were just traded off by a love to a single being.

Besides that, homosexual and their supporters have neglected the fact that love comes in to various forms as: brotherly love, Godly/natural love, motherly love, erotic love and so on. Their view of love is so narrowed into erotic love that they don't care about other forms of love. Homosexuals are not a loving being as a whole. When a person chooses to become a homosexual they immediately loose their potential to have a motherly love, or the love of raising a children. They don't have a Godly love because they are no longer in line with human nature where men are suppose to be partners with women. They can no longer have a brotherly love because for homosexual man, other men are just attractive and sexually appealing beings. This is not about love, this is just homosexual creating a narrow meaning of love.

"They never want to be, they were just born like that naturally, by fate"

Homosexuals are of course non-religious but they are trying to be religious at the same time. Homosexuals will never believe in God because many scriptures just don't accept such a way of life. However, they are also using religious term. They think that their situation as being a homo is a fate or given by God. Which God gave fate to a man to love another man? Loving is a matter of choice not  fate. People decide upon whom to love, so it's never something given. Homosexual had the choice but they prefer the strange and hard road.

Well may be not fate but something that was brought naturally. Speaking of natural events, scientifically homos are not natural at all. Out of millions of species that roam the earth, homos are the only one who are not interested in mating with different genders. Every species of animals is divided into male and female sexually. And at some point, they would have to mate to reproduce. Homosexuals don't do this. And in Darwin's theory they are a failed product because they are unable to continue their genes. Its never natural or fate, they just choose to be like that.

"Homos are human and their way of life must be respected" 

This is again another insane and unbelievable piece of argument. Respect is a very noble and widely used term but there is a way in utilizing it. Who is suppose to respect whom? I would like to use a comment from a famous Indonesia writter Tere Liye. 

Imagine an apartment that have been in the neighbourhood for many decades is occupied by one hundred normal families. Some days ago a homosexual couple moved in. After that on, previously living residents started to get unconfortable seing two men kissing in the balcony. What are they suppose to do? Respect the homosexual couple and leave them kissing in the balcony? In this case, who is supposed to be respecting whom? How many years have normal human been living normally around the earth.

Thousands of years of established civilization was interupted by a sudden legalized homosexual marriage. And now we see this homosexual roam the street protesting, trying to claim their right. Their acts is violating the concept of respect. Lets put it like this, I am from Indonesia, a country of fishery. Currently I am living in Turkey and I have been here for four years and suddenly I come to kizilay townhall to protest on "legalizing squids in Turkish restaurants". Would you expect me to do that?

"Minorities must be supported instead of being oppressed".

How many minorities are there in the world today and why must we consider homosexual as a priority to support. We have minorities that can not freely live in a country, another minority that have difficulties in retaining living comfort because of war and other minorities which has much more urgent need to be supported, Just because homosexuals are legal now in USA doesn't mean they become an important issue to consider worldwide. Lets be fair in treating minorities.


Why Homosexual are not Worth Supporting

Homosexuals rigth now are attempting to get their voice accepted by the world community. They want people to receive their unwanted fate. Because they were born like that and nothing can be done to change their behaviour. But one thing homosexuals must take into consideration. For a community to be accepted, it has to qualify some requirements and here are some:

1. Beneficial to the world.

Let us first discussed the homosexual history that dates back thousands of years ago. Throughout the history, these type of human have been rejected by many civilization. And it is very unfortunate that none of the homosexuals made a great history like Pharaoh, Alexander the Great, Salladin or Benjamin Franklin. Their only clear record were mentioned in the Bibble and the Quran with not a very pleasant facts. 

Well I don't want to say much about their stories in the holy book but my point here is homosexuals have never been very beneficial to the world. After thousands of years their group's interest was only in having to be able to love other humans with the same kind of genitals. If homos were beneficial enough to the world they would have been recorded as a great general, or a noble scientist or a famous painter, By mentioning these occupations, I am actually referring to a big names, not those on television right now. So up till now they are not yet beneficial to the world, and no need to be supported.

2. In line with human nature.

This is probably the most important requirement and homosexual fail to fullfill it. Homosexuals first of all choose to go againts nature. Out of all living creatures that tries to strive to reproduce on earth, homosexual comes out from nowhere to say no to reproducing. Yet they are a product of this uniform reproduction system where a female mates with a male to produce offsprings.

Humans have been successfull because they reproduce. By reproducing, human create a legacy, a family where they are able to pass on their qualities throughout generations. But this way of life seem to be unsuitable for homosexuals. They are currently pursuing their rights but are not willing to pass this spirit towards the next generation. All they do is wait for a normal couple to have kids and hope that the newborn could someday become a homosexual and finally supports their way of life. It's like a parasite that doesn't want to reproduce. Well you know, even the most annoying parasite survive their own without depending on others.


Homosexuals could have chosen a different path by just admitting that they wanted to try something different. Trying a different erotic love experience but not a long term one. But anyway, they are legalized now in some countries. So no need to say anything to them. I hope those homosexual that live in other country in which their status is not legal yet, have the time to change their mind. Being a normal person is much more beautiful and trust me its more peacefull. Imagine how much love homosexual would gain if they become normal again.

I am very sorry if you find this writting annoying or hurting, but you have to respect this view. After all I am also a human being and I have the right  to give my ideas right

Selasa, 23 Juni 2015

Dua perahu nelayan

Apa bedanya orang jatuh cinta dan orang mencinta. Dua hal ini kerap disamakan padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Jatuh cinta adalah petualangan sesaat penuh sensasi luar biasa, sebaliknya mencinta adalah proses jangka panjang yang membutuhkan perencanaan dan konsistensi. Kebanyakan dari kita sebagai anak muda, menggolongkan keduanya menjadi petualangan sesaat saja atau disebut jatuh cinta

Saya ingin mendiskusikan keduanya berdasarkan pendapat Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving yang mengupas dua cabang cinta ini. Orang mencinta akan mempunyai topik bahasan yang luas namun tulisan ini akan lebih terfokus pada mengidentifikasi apa jatuh cinta agar pembaca tidak menyamakannya dengan proses mencinta. 

Jatuh cinta:


Anak muda pasti tahu kalau jatuh cinta itu indah dan memabukkan. Indah karena ia yang biasa melakukan apa apa sendiri kini ada yang menemani. Atau yang biasanya bangun karena alarm kini dibangunkan kekasih hati. Jatuh cinta juga memabukkan kepala yang tertimpa. Bayangkan saja, orang yang sedang jatuh cinta bila sedang melamun akan tersenyum sendiri, tertawa sendiri. Padahal untuk mencapai fase ini, manusia butuh bantuan asap ganja atau tenggakan minuman keras. Tetapi bagi yang jatuh cinta, mabuk tidak perlu merogoh kocek, ia cukup melamun membayangkan pujaan hati. 

Jumat, 20 Maret 2015


Bandara Lombok malam hari (dari gembolransel.com)

Gabriel dan Garcia melambaikan tangan. Mereka telah dijemput seseorang, meninggalkanku sendiri di antara kerumunan pelataran bandara. Kami baru saja berkenalan di bangku pesawat terbang tadi. Kami duduk bersebelahan sejak memulai perjalanan dari Yogyakarta. Mereka pasangan muda dari Spanyol yang sedang melancong, menikmati sebagian keindahan Indonesia. Saat masih di udara mereka bercerita tentang perjalanan mereka selama lima hari di Jakarta dan lima hari lainnya di Yogyakarta. Kata mereka Indonesia bagus dan murah, sangat cocok untuk dijadikan tujuan liburan. Selain itu orangnya ramah-ramah dan selalu sumringah ketika melihat mereka. Ini membuat liburan mereka lebih indah, karena di tempat asal sana, mereka hanyalah penduduk biasa. Tiada pernah didapat oleh mereka perhatian sedemikian rupa.

Betapa senangnya mereka, yang terbiasa hidup mahal lalu menemukan Indonesia. Ah Indonesia, negeri indah nan jauh di timur sana. Tak hanya murah, matahari pun bersinar indah tanpa lelah. Kalau orang Jepang menyebut negara mereka tempat terbitnya matahari, maka Indonesia adalah tempat nongkrongnya matahari. Sepanjang tahunnya mentari tak banyak pindah dari garis edarnya. Dipandangnya Indonesia tepat di muka, dan hanya sedikit tolehnya, yaitu pada permulaan dan pertengahan jalan edarnya.

Malam itu lambaian tangan kami mengakhiri pertemanan yang baru terjalin di pesawat tadi. Setelah ini, sangat mustahil kami kembali bersua. Alangkah bahagianya dua sejoli itu, menikmati sisa liburan mereka di pesisir pantai pulau terbarat Nusa Tenggara. Semoga Lombok bisa menutup akhir cerita indah mereka. Sebelum rutinitas mereka kembali menelan tawa, yang telah terbangun sejak di Jakarta hingga esok lusa. Kata mereka hati-hati, dan semoga kita bertemu lagi.

Senyum mereka hilang, ditelan pulau Lombok malam-malam. Inilah salah satu indah perjalanan, kita akan dihadapkan beberapa pertemanan instan. Meski tak lama, pertemanan macam ini tetap membekas. Ia kelak akan menjadi bahan cerita pada sanak famili atau pada kekasih hati. Cerita pertemanan singkat tadi akan ikut memberi warna, pada kehidupan kita yang mulai tak punya nuansa. Biarkan ia menambahkan sedikit arti, pada corak kehidupan yang kini lebih banyak diwarnai berburu harta, berjualan tahta dan hura hura.

Di antara kerumunan tadi tiada pos ojek kudapati. Pikirku, di bandara selain Sukarno-Hatta akan ada banyak tawaran ojek menanti. Rupanya aku salah asumsi, karena Lombok telah naik kelas alias go international. Tiada lagi ojek punya nyali, menawari jasa antar jemput sana sini. Yang ada hanya taksi, dengan tarif lumayan tinggi. Tak lama setelah hilang bayangan dua sejoli tadi datanglah bapak Surdi. Seorang bapak yang mulai bertanya hendak ke mana malam-malam begini.

"Saya mau ke Sembalun Pak, ingin menengok gunung Rinjani"

"Wah Sembalun jauh, tidak ada siapa pun yang ke sana, apalagi sudah jam segini"

"Baik Pak, biarkan saya menanti, siapa tahu akan ada orang lain yang mau ke Rinjani"

Satu jam setelah jawaban tadi, tiada seorang pun yang mau ke sana. Sementara itu jam telah menunjuk angka 21.40 WITA. Pak Surdi yang sedari tadi masih mengamati akhirnya datang lagi menghampiri.

"Kalau sudah jam segini, tidak ada lagi orang ke Sembalun"

Maka mulailah kami tawar-menawar. Pak Surdi terlalu tinggi menetapkan harga padahal diri ini hanya seorang mahasiswa. Meski berlangsung alot, akhirnya aku mengangguk mau karena sudah tak mungkin lagi Pak Surdi diajak negosisasi. Ia pun sudah paham, siapa yang sebenarnya lebih membutuhkan.

Segera kami berangkat ke Sembalun. Kata Pak Surdi perjalanan akan memakan waktu dua setengah jam. Ada yang aneh dengan Pak Surdi ketika duduk dalam kemudi. Ia mengemudi tidak seperti laki-laki. Kaki kananya terlalu dalam menempel pedal gas, sementara kaki kirinya terlalu kasar memindah gigi percepatan. Mengetahui ini segeralah aku minta berhenti. Saat itu di samping jalan ada warung makan remang-remang. Kami berhenti sejenak untuk bersantap gorengan ayam. Saat makan kecurigaanku menemui jawaban. Benarlah kegugupan Pak Surdi, beliau belum genap satu tahun memulai profesi ini.

"Hahaha, Bapak ini, yaudah kalau gitu biar saya saja yang mengemudi"

Tawaku bersautan, dikatakannya "iya" dan "tidak apa apa mas". Awalnya ia sedikit malu, karena seharusnya bersama ialah mobil berpacu. Namun malam itu keselamatan kami lebih penting, karena jalan ke Sembalun akan menanjak dan berkelok. Belum lagi kabut pegunungan, yang dengan mudah dapat menghilangkan penglihatan. Ini akan sangat berbahaya jika yang mengemudi belum banyak mengoleksi jam terbang.

Tak lama kami menjadi akrab bersama sedikit kepulan asap. Rupanya Pak Surdi pernah tiga tahun merantau ke negeri Jiran. Ia lebih fasih berbahasa melayu dari pada berbahasa Indonesia. Anaknya dua, satu SD satu SMA dan sangat disayangnya. Kami bertukar cerita di tengah gelap jalanan malam. Menertawai kehidupan, merindukan cerita lama dan saling bertanya pada masa depan. Ini merupakan pertemanan instan kedua sejak meninggalkan Yogyakarta sore tadi.

Pukul 00.00 sampailah kami di kawasan taman nasional Gunung Rinjani. Kami disambut lebat pepohonan dna kabut pegunungan. Sesekali monyet lompat menyeberangi muka jalanan yang nampak basah tersentuh embun. Celoteh kami berkurang, karena baik pengemudi dan penumpang kini harus mulai lebih waspada.

Medan jalan yang naik dan berliku serta kehadiran mobil dari arah berlawanan menguji kemampuan mengemudi. Pada beberapa kesempatan, aku harus menekan gas pelan-pelan karena kabut pekat. Hanya putih terlihat dan jarak pandang tertutup hampir rapat. Jika teledor sedikit saja, masuk jurang jadi taruhan. Kami beruntung karena setengah jam kemudian kami sampai di Sembalun Lawang. Indah betul malam di Sembalun Lawang dengan ramai kerumunan bintang. Aku belum pernah menemui kerumunan bintang seramai di sana. Di tambah lagi megah pantulan bulan, yang putih memancar bersinar.

Tak lama setelah gerbang desa tibalah kami di Pos Pengawasan Gunung Api Rinjani. Di sana kami disambut oleh Pak Yuli yang kebetulan bertugas malam itu. Sembari mengemas barang-barang, aku dan Pak Surdi bercakap-cakap untuk terakhir kali.

"Tidak pernah ada malam penuh bintang seperti ini di pulau Jawa Pak Surdi'

"Mungkin mas tinggal di kota"

"Ini seperti mimpi Pak Surdi, saya kira mustahil ada pemandangan seperti ini di Lombok"

"Memang bagus mas, belum banyak lampu di sini."

"Pak Surdi ikutlah menginap malam ini, berbahaya sendirian ke Mataram"

"Tidak apa mas, saya rindu anak istri"

Begitulah tutur Pak Surdi menolak tawaranku. Baginya kerumunan bintang malam itu tak lebih indah dari senyum keluarganya di Mataram. Di situ pertemananku dengan Pak Surdi berakhir. Seperti pertemanan instan sebelumya, ia tak awet dan hanya berlangung sebentar. Namun pertemanan itu tetap memberi warna, pada corak kehidupan yang mulai kehilangan nuansa.

bersambung.....................

Pemandangan malam di Sembalun Lawang, Lombok



Kamis, 18 Desember 2014

Roi dalam duduknya di kereta
Roi akan pergi ke Denizli lalu kembali dua hari kemudian. Ia hendak melihat sebuah situs terkenal yang berada di pesisir Laut Aegean. Ia amat ingin ke sana karena kata orang lokal "Jika kamu mengunjungi Turki tanpa singgah ke tempat itu, maka menyesalah dirimu ketika pulang". Tapi sayangnya kalimat ini juga berlaku ke beberapa tempat lain di Turki. Jadi intinya Roi harus pergi ke banyak tempat agar tak menyesal ketika pulang.

Roi memang melakukan perjalanan ini untuk memenuhi saran si orang lokal tadi. Tapi ia tak ingin sekedar menghilangkan sesal. Ia harus pergi dan membawa pulang sesuatu. Roi adalah seorang pengelana yang telah berkali-kali melakukan perjalanan. Sebuah perjalanan baginya tak sebatas sampai tujuan atau gambar-gambar momen yang terabadikan. Bagi Roi perjalanan haruslah memberi kesan kepada kelima indera miliknya. Selain itu, perjalanan juga harus memberinya ilmu sebagaimana buku memberi ilmu pada pembaca. Dan yang paling penting, perjalanan harus ekonomis karena Roi bagaimana pun adalah seorang pelajar.

Rabu, 13 Agustus 2014

Tiga tiga mata perkasa kepunyaan raksasa
Tiga tiganya adalah kanan kiri dan di antara
Tiga tiga mata tak memberi tenaga ekstra
Tiga tiganya sama semua menatap muka

Dua dua mata cermin presisiNya
Dua duanya membagi muka sama rata
Dua dua anggota berdampingan semeja
Dua duanya ngantor pagi pulang senja

Dua dua mata meski bekerja bebas menari
dua dua tadi biasa menggoda sana sini
Tiga tiga kesempatan sempat saling kait tali
tiga tiga kali hilang tautan lepas kendali

Tiga dua malam tak akan terlihat gelap
jika tiga dua bulan tak henti menatap
Karena tiga dua saat saja, mata bisa serap
tiga dua biji sisa cahaya penerang gelap

Dua tiga malam tak lagi terasa berat
jika dua tiga musim telah habis terlewat
Dua tiga malam terjaga dalam munajat
agar dua tiga musim terang didapat