Kamis, 23 November 2017

1.     SELAMAT PAGI!


PAGI itu pada hari Sabtu, adzan masjid di kampung sebelah berkumandang nyaring. Suaranya syahdu menaungi gedung asrama putra SMA Bima Sakti. Hanya diriku dan seorang kawan bernama Faiq yang sudah terbangun di kamar. Teman lain sepertinya belum mau menyelesaikan mimpi-mimpi mereka. Jam menunjukan pukul 04.16. Gelap dan merdu nyanyian kipas angin masih mengeratkan selimut kawan-kawan. Suara langkah kaki pembina asrama juga belum. Asrama kami belum akan bangun dalam waktu dekat.

Matahari terbit dari tengah Samudra Pasifik. Dari sana ia merapikan malam, lalu membiarkan pancaran tubuhnya masuk ke celah-celah embun pagi. Pagi merupakan lembar kanvas baru yang siap diterpa coretan. Pagi adalah papan dart kosong yang siap ditembaki antusiasme penduduk bumi. Pagi begitu diutamakan karena ia menyelamatkan orang dari gelap malam dan memberi mereka banyak harapan sampai senja berikutnya datang. Maka jangan heran jika orang tua di Indonesia marah ketika melihat anak mereka tidak menghormati pagi, termasuk orang tuaku.

Jika orang tua marah pagi-pagi, semua pada hari itu menjadi tidak asik. Bentakan keras menimpa telinga, padahal mata yang enggan terbuka. Uang jajan dikurangi, padahal ada tiga bungkus siomay yang harus dibeli. Maka dari itu aku selalu menghindari bangun kesiangan. Pada awalnya ini murni karena takut kepada hukuman orang tua, namun perlahan aku bangun karena kekaguman pada pagi. Bunyi kokok ayam bergiliran, jerit lirih kicau burung beriringan, dan tentunya sentuh lembut embun pagi. Kini meskipun tak lagi bersama orang tua, aku tetap bangun pagi.

Oh iya perkenalkan namaku Aswin Imam, biasa dipanggil Aswin. Aku berasal dari Kebumen, salah satu kota di pantai selatan pulau Jawa. Ayahku seorang dosen Ilmu Sejarah dan Ibuku adalah pengusaha roti lebaran. Aku datang ke sekolah ini agar bisa mandiri. Sebenarnya aku bisa saja sekolah di Kebumen, namun orangtuaku lebih tertarik dengan tempat ini. Kata mereka aku akan menjadi manusia yang lebih baik jika belajar di sini. Karena selain jauh dari rumah, SMA ini juga berasrama. Kata Ibu, lulusan dari sekolah ini biasanya jadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Meski belum melihat buah dari sifat bertanggung jawab, aku sudah bisa melihat perubahan keadaan para siswa satu angkatanku. Kami sangat lebih mandiri jika dibandingkan dengan kami saat pertama kali masuk. Dulu masih ada kawan yang minta dikirimi satu kardus susu kemasan setiap akhir pekan. Masih ada yang menangis ketika mendapat olokan. Bahkan ada yang jatuh pingsan karena melihat kecoa di kasurnya. Tapi kini semua masalah konyol itu telah sirna, kami berhasil menaklukan sebagian besar ketergantungan pada orang tua.

Suara adzan terus berkumandang namun tenggelam dalam gelap dan alunan merdu kipas angin. Di dalam gelap, aku dan Faiq melangkah mencari lemari kami yang saling bersebelahan. Kami harus mengambil perlengkapan mandi. Faiq adalah kawanku yang berasal dari Kendari. Badannya gempal dengan wajah ketimurtengahan. Dia selalu bangun pagi karena kebiasaannya di rumah. Ayahnya seorang tentara yang tidak pernah menghendaki anaknya bangun siang. Selain disiplin, Faiq juga gemar membaca. Ia adalah salah satu dari sedikit kutu buku di asrama kami.

Langkahku berjalan menuju koridor asrama, tujuan berikutnya adalah kamar mandi. Di tengah-tengah lorong itu Mirzandi membuatku berhenti. Ia menyapaku sambil berdi kecil di hadapan cermin besar yang tergantung miring pada dinding koridor. Rupanya selain aku dan Faiq, ada Mirzandi yang sudah bangun. Ia berdiri lengkap dengan busana joggingnya. Setelah lari kecil, kini ia berdiri dengan satu kaki. Dari gerak tubuhnya, Mirzandi sedang melakukan pemanasan.

“Selamat pagi saudara Aswin Imam Asidiki Pertiwi” sapa Mirzandi dengan suara melengking.

“Mir! pagi banget, ngapain?” tanyaku sedikit heran dengan tingkahnya.

Anda sendiri kenapa sudah berdiri pagi-pagi?” jawabnya masih dengan suara melengking, kali ini ia tersenyum lebar.

Ini adalah cara Mirzandi mengintimidasi lawan bicaranya. Ia akan tersenyum seperti badut selama percakapan berlangsung hingga si lawan bicara tertawa. Mirzandi adalah pemuda asli Salatiga yang punya cita-cita jadi pelawak. Ia terinspirasi oleh sebuah acara yang dibawakan Komeng beberapa tahun silam. Dalam banyak kesempatan ia selalu berhasil membuat lawan bicara jatuh dalam tawa. Sayangnya pagi itu aku masih mengantuk.

Jogdipa!” katanya masih dengan ekspresi yang sama.

Jogdipa apa?” tanyaku.

Tak lama kemudian muncul Ariza, ia segera berdiri di sebelah Mirza untuk ikut pemanasan.
“Ariza, kamu juga sama Mirzandi?” tanyaku menoleh

“Selamat pagi kisana Aswin. Benar sekali. Ayo kita jogdipa!” katanya menirukan gaya Mirzandi berlari kecil dan tersenyum badut.

Ariza adalah kawanku satu lagi yang selalu bersama Mirzandi. Ia punya perawakan kurus. Mukanya sangat Jawa, lonjong dan tanpa bulu muka. Beratnya hanya 55 kilogram padahal tingginya 170 centimeter. Ariza memiliki cita-cita menjadi dokter. Namun ketertarikan mereka terhadap komedi menyatukan Ariza dan Mirzandi. Karena tidak paham dengan maksud mereka, aku menggarukkan kepala. Melihat sinyal ini, Mirzandi dan Ariza segera melirik satu sama lain dan berteriak.

Jogdipa Win, jogging di pagi hari, hahaha” jawab Mirzandi disusul tawa keduanya.

“Ya ya jogdipa, aku mau mandi dulu! Sudah jam 04.25” jawabku masih mengantuk.

Keduanya saling tos kemudian pergi menuruni tangga berlari-lari. Dingin angin segera menyambut langkah masukku ke kamar mandi. Tiupannya sedikit menyiutkan niat membersihkan diri. Namun rasa itu segera pergi setelah melihat panjangnya antrian gayung. Sekarang jam sudah menunjukan pukul 4.30. Hanya ada 8 bilik untuk mengakomodir 100 orang di lantai asrama ini. Jika tidak mandi saat ini, aku harus menunggu sampai pukul 06.00 nanti. Padahal setelah itu masih ada jadwal sarapan pagi. Di sana akan ada antrian lagi. Lalu pelajaran dimulai pada pukul 07.00. Aku tidak mau telat, sekarang waktunya mandi!

Seperti aturan-aturan lain, selalu ada sebuah pengecualian. Seseorang boleh mendahului antrian apabila pemilik gayung di depan tidak melihat aksi tersebut. Hal ini sangat jarang terjadi. Apalagi ketika siswa lain sudah bangun. Mereka yang nekad nyerobot akan dipermalukan bersama di kamar mandi. Kalian tentu tidak ingin tahu bencana yang menimpa para pelanggar aturan itu.

Aku sendiri belum mengantri sejak tadi malam. Namun kasusku dan segelintir kawan di sini sedikit berbeda. Karena tidak banyak yang bangun awal, kami bisa dengan leluasa memilih bilik mana pun sebagai tempat mencuci badan. Tapi sebagai konsekuensi, kami harus mandi bersama angin dingin. Cara ini kami pilih karena menghemat waktu. Selain itu kami bisa santai di kala yang lain sibuk menunggu antrian mandi.

Ketika keluar dari bilik kamar mandi, jam menunjukan pukul 4.45. Terdengar adzan berkumandang dari mushola asrama. Mushola asrama punya waktu adzan yang lebih telat dari waktu adzan normal. Terdengar suara langkah kaki pembina asrama.

“Bangun semua! Bangun! Bangun! sholat subuh semua!”

“Ayo bangun ayo!” teriak Bang Anton sambil mengetuk pintu.

Bang Anton berasal dari luar Jawa. Konon menurut cerita yang beredar di asrama, ia memiliki garis keturunan yang berasal dari Asia Tengah. Meski begitu ia berbicara dan tumbuh besar di Indonesia.

“Selamat pagi Aswin” sapanya ketika melihatku berjalan menuju kamar.

“Pagi bang” sapaku kembali.

Lampu kamar sudah menyala, bang Anton mulai membangunkan mereka satu per satu. Ada yang langsung bangun, ada yang bersandiwara menutupi mata. Jam menunjukan pukul 04.50. Mereka yang langsung bangun, melompat turun dari ranjang lalu berlarian ke mushola. Sepuluh menit kemudian ikomat berkumandang. Pada saat itu semua baru benar-benar bangun. Setelah selesai sholat, penduduk asrama menyiapkan diri menghadapi hari Sabtu. Kami tak sabar karena siang nanti sepekan waktu belajar akan ditutup. Siang nanti akhir pekan akan dimulai hingga malam berikutnya datang.

Selamat pagi semua!




2.     SIHIR TANPA MANTRA


“MANUSIA adalah kebiasaan dia! Manusia dibentuk dari kebiasaan-kebiasaan dia setiap hari! bentak Pak Haris ketika apel pagi.

“Wah mampus tuh mereka!” Kata Mirzandi berbisik padaku.

Ia menunjuk sekelompok siswa yang ditahan di depan. Pagi itu sebelum masuk ke kelas, kami dikumpulkan di halaman sekolah untuk apel. Jam menunjukan pukul 07.00. Seluruh siswa SMA Bima Sakti berbaris berdasarkan kelas mereka. Kelas kami adalah kelas 12 Alfa yang beranggotakan 20 siswa putra.

“Aku heran, kalau hari Senin sampai Jumat kan kita pakai seragam. Jadi wajar kalau ada hukuman. Nah ini kan hari Sabtu! Hari santai!” Saut Ariza yang juga berada di dekat Mirzandi.

Di SMA Bima Sakti, siswa hanya diwajibkan untuk mengenakan seragam resmi pada hari Senin hingga Jumat saja. Khusus hari Sabtu, semua dibebaskan memakai pakaian apapun yang sopan. Ini karena pada hari Sabtu tidak ada pelajaran resmi. Hanya ada jadwal membaca buku dan kegiatan ekstra kurikuler. Hari Sabtu adalah hari yang paling menyenangkan karena kami tidak perlu menghadapi angka-angka dan rumus rumit milik matematika atau fisika.

“Gara-gara telat?” kataku bertanya.

“Kalian ini sudah diberi kebebasan pada hari Sabtu. Tidak ada pelajaran dan baju bebas. Masih saja datang telat? Jika begini terus kalian mau jadi apa!” Lanjut Pak Haris masih marah.

“Kamu sangat jeli melihat situasi” saut Mirzandi sambil tersenyum badut.

“Ya ya, aku kan cuma mencoba menanggapi” jawabku kesal.

“Pada gak bisa tidur mereka!” jawab Ariza.

“Oh jadi masih tentang Faiq semalam?” tanyaku.

“Keliatannya gitu Win” jawab Ariza.

“Tapi Faiq sudah baik-baik saja, dia bahkan bangun bersamaku tadi pagi” jawabku.

“Pelaku boleh sembuh Win, tapi legenda sudah menyebar. Kejadian tadi malam tidak akan mudah dilupakan penghuni asrama” jawab Ariza.

“Ah, kau berlebihan Za” jawabku.

“Kenapa sih Pak Haris dan guru lain tidak bisa maklum, kan kita masih muda, waktunya telat. Nanti kalau sudah besar baru berubah” lanjut Ariza mengalihkan pembicaraan.

“Hmm, serius sekali saudara Ariza” canda Mirzandi.

“Sialan kamu Mir!” tutur Ariza.

“Kalian harus rubah kebiasaan ini kalau ingin jadi sukses. Manusia itu adalah produk kebiasaan dia dari kecil. Kalau kamu terbiasa telat, gimana pas udah kerja nanti? Jangan harap kamu bisa merubah kebiasaan itu kelak. Omong kosong mereka yang mau merubah diri dalam semalam. Tidak ada kebiasaan bertahun-tahun yang bisa dirubah dalam sehari atau bahkan seminggu. Semoga kalian bisa berpikir lebih baik. Jangan telat setelah ini!tutup Pak Haris.

“Waduh, kejawab tuh pertanyaan kamu” celetukku sedikit meledek.

“Ah sudah, kita ke kelas saja!” jawab Ariza sedikit kesal.

Siswa dibubarkan untuk masuk ke kelas masing-masing. Apel pagi berakhir menyisakan hukuman pada mereka yang telat. Setelah selesai berbicara, Pak Haris memerintahkan mereka yang telat untuk menyusuri seluruh kawasan sekolah. Mereka ditugaskan memunguti sampah. Sebenarnya hukuman ini tidak memberi efek jera apapun. Tidak ada kesan malu di raut wajah mereka. Bahkan yang terhukum justru memunguti sampah dengan penuh canda tawa. Aku bisa melihat tingkah mereka dari kejauhan.

Ruang kelas kami berada di lantai dua gedung sekolah. Kami sekelas pergi ke ruang kelas itu bersama-sama. Selama hidup di asrama, kami terbiasa dengan konvoi dalam hal apa pun. Pagi hari, kami sholat-mandi-sarapan bersama. Siang hingga sore kami belajar-makan-bermain-belajar bersama. Dan malam sampai pagi berikutnya kami tidur di kamar bersama. Pagi itu kami mengaplikasikan kebersamaan ala asrama ini untuk pergi menuju ruang kelas.

 Dalam konvoi kami akan berjalan secara berbaris membentuk sosok ular panjang. Ketika sampai di tangga, kami harus berhenti untuk menunggu. Akan ada antrian naik tangga dengan kelas lain. Tangga sekolah kami hanya dapat menampung dua konvoi kelas dalam satu waktu. Setiap giliran akan terdiri dari dua kelas. Mereka dibagi menjadi barisan tangga sebelah kanan dan barisan tangga sebelah kiri.

Tidak ada yang spesial dengan ritual antri ini. Tetapi hal ini berubah ketika kami mendapat giliran naik bersama kelas putri dari tingkat berapa pun. Sejak awal kami membentuk barisan, sudah ada harapan tinggi di benak teman-teman. Kelas kami harus bertemu konvoi kelas putri. Apalagi hari ini adalah hari Sabtu. Semua dibebaskan memakai baju selain seragam sekolah. Siswi dari asrama putri biasanya akan tampil mempesona dengan baju mereka yang berwarna. Dan jangan ditanya lagi soal aroma parfum mereka.

Konvoi kami sampai di tangga dan berpapasan dengan kelas 12 Omega. Dewi Fortuna sedang berada di dekat kami. Kegembiraan yang ada membuyarkan fokus konvoi ular kami yang seketika itu terpecah belah. Selama 30 detik menaiki tangga, ada fenomena unik yang terjadi. Barisan kelas kami membelah jadi dua kelompok. Satu bagian memutuskan untuk bergurau lebih liar dari biasanya. Sayangnya gurauan mereka justru membuat rombongan kelas 12 Omega jijik dan berkata.

“Ih apaan sih kalian!”.

Satu bagian lagi berhenti bergurau dan mencoba terlihat bijaksana. Ini golongan orang-orang penjaga image di kelas kami. Mereka tidak mau terlihat bodoh di depan kelas 12 Omega. Meski usaha ini juga tidak mendapat respon dari kelas 12 Omega. Aku sendiri awalnya berada di tengah barisan. Pagi itu aku memutuskan mengikuti barisan bergurau.

Ketika sampai di ruang kelas, kami segera mengomentari performa di tangga tadi. Aku tidak tertarik dengan berbincangan itu karena tadi sewaktu di tangga aku disihir salah satu anggota kelas 12 Omega. Dia adalah Diana yang memakai kemeja kuning dan kerudung putih. Dia berjalan tanpa pernah memerhatikan kelas kami. Keramaian kami selama 30 detik tidak berhasil memalingkan pandangannya atau bahkan sekedar membuatnya ikut berkata.

 “ih apaan sih kalian ini”

Diana tetap pada langkahnya menelusuri anak tangga. Dia begitu dingin dengan keanggunan sikapnya. Ia tidak hanya cantik di mata, tapi juga di telinga. Saat berbicara, ia tidak hanya bisa tertawa dan membuatmu memuji kecantikkannya. Kecerdasannya akan membuat lawan bicara tetap siaga memikirkan apa yang harus dikatakan berikutnya. Pesona Diana bertambah dengan selera humor sederhana miliknya. Jika ada kesempatan berbicara dengannya, Diana akan sering tertawa dengan leluconnya sendiri.

Aku mengenalnya tahun kemarin di klub ekstrakurikuler bahasa Inggris. Kami tidak terlalu dekat namun selalu bertukar kabar dalam seminggu. Minggu lalu adalah ulang tahun ke 18 Diana. Aku cukup beruntung untuk ikut merayakan bersamanya. Sayang, peristiwa minggu kemarin tidak begitu membekas. Karena tadi ketika kami berpapasan di tangga, tidak ada nampak wajahnya menyapaku, bahkan lewat senyum. Diana sihirmu luar biasa.


3.     TANDA TANYA


“KEPADA seluruh anak kelas 12 Alfa, kalian ditunggu di kamar 302!” seru Ariza melalui mikrofon.

“Mirzandi akan memberi briefing sedikit sebelum kita berangkat malam ini!” tambah Ariza mengumumkan.

Malam sebelumnya atau tepatnya Jumat malam, kelas kami menghabiskan waktu bersama di halaman sekolah. Setiap Jumat malam, kelas kami memiliki sesi khusus selama sekitar empat jam. Sesi ini biasanya kami habiskan untuk membakar jagung manis atau memesan lapangan futsal di pusat kota Semarang. Di kesempatan lain kami pergi ke tempat kareoke atau menonton film laga komedi bersama. Hampir semua jenis hiburan modern telah kami coba.

Entah kenapa malam itu kami ingin sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dapat memaksa mata, telinga dan perasaan kami untuk bekerja lebih. Kami memutuskan untuk memacu adrenalin dengan bermain petak umpet di sekitar gedung sekolah. Gedung itu masih berada dalam satu kompleks dengan gedung asrama putra.

Gedung sekolah kami sebenarnya tidak terlihat mengerikan di malam hari. Namun kegelapan yang mengelilingi gedung itulah yang menjadi daya tarik menguji nyali. Di sebelah utara ada sedikit cahaya dari gedung asrama putri. Sayangnya gedung asrama itu terletak di seberang deretan pohon besar. Cahaya dari sana remang-remang tertutupi dedaunan. Di sebelah selatan terdapat hamparan sawah luas. Tidak ada rumah warga di sana, hanya ada gubuk peristirahatan kecil tanpa penerangan. Di sebelah timur terdapat barisan pohon jati yang sangat gelap. Tiada seorang pun yang bisa berjalan di daerah sana tanpa sebuah lampu. Gedung sekolah terkurung gelap pada tiga sisi. Satu-satunya sumber cahaya yang dapat dilihat jelas berasal dari gedung asrama putra di sebelah barat.

SMA Bima Sakti sebenarnya baru berdiri sekitar sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang cukup untuk membangun sebuah legenda menyeramkan ala gedung tua. Di malam hari, semua lampu di gedung sekolah terang menyala. Pintu di masing-masing kelas juga masih baru. Jadi hampir pasti makhluk-makhluk itu tidak betah jika harus beraksi di sana malam-malam. Sayangnya, meskipun baru dan terawat, lokasi sekolah kami cukup terpencil. SMA Bima Sakti terletak 17 kilometer dari pusat kota Semarang. Desa terdekat berada dalam radius 4 kilometer. Karena faktor keterpencilan ini, beberapa legenda makhluk supranatural tetap ada di sekitar kami.

Cerita menyeramkan datang dari barisan pohon jati yang rimbunnya tidak mengijinkan sedikit pun cahaya untuk masuk ke sana. Teman-teman di kelas kami selalu ketakutan jika Mirzandi sudah mulai berlagak menjadi ‘Dukun pohon jati’. Ia akan berlagak seperti juru kunci daerah pohon jati dan memulai berbagai narasi mengerikan tentangnya. Mirzandi memang menakjubkan jika harus bercerita horor. Ia tak hanya berbakat menjadi komedian, namun juga menjadi dukun gadungan. Konon ketika kecil ia pernah diculik jin selama seminggu. Karena peristiwa itu, ia ingin ikut berkontribusi untuk meyakinkan orang-orang tentang keberadaan makhluk tak terlihat tersebut. Malam itu sebelum bermain petak umpet, Mirzandi mengumpulkan kami di kamarnya. Waktu menunjukan pukul 20.00 ketika ia memulai briefing.

“Kita tidak sendirian di dunia ini!” Kata Mirzandi sambil menyorotkan senter ke depan mukannya.

Ini adalah cara Mirzandi memulai narasi mengerikan miliknya. Ia akan mematikan lampu kamar dan membuat efek pencahayaan dengan senter mini. Aku sendiri tidak begitu ambil pusing dengan keangkeran barisan pohon jati. Kalau boleh jujur, aku memang amat takut jika harus dihadapkan dengan tontonan horor atau jika harus dibiarkan sendiri dalam kegelapan. Namun ini tidak membuatku menjadi terobsesi untuk menyebar cerita menakutkan ke teman-teman.

“Malam ini kita akan menyapa mereka di gedung sekolah, pastikan kalian menjaga sikap!” tutur Mirzandi kepada teman-teman kelas kami.

“Ah yang bener aja kamu Mir!” Saut Faiq

“hahaha, kamu takut ya iq?” saut kami ramai-ramai.

“Kalian pasti percaya kalau ada angin kan, tapi kalian tidak bisa melihatnya” ucap Mirzandi menjelaskan.

“Emang angin sama setan sama Mir!” ledekku.

“hahahaha” perkataanku, disambut tawa teman-teman.

“Kalian tidak mengerti! Maksudku begini, keberadaan mereka tidak perlu kalian lihat! kalian bisa rasakan melalui telinga.....” saut Mirzandi sambil menatap tajam ke arahku.

“.. lewat angin yang berhembus, atau melalui sentuh lembut mereka di pundak kalian. Indera kalian tidak hanya mata kawan!” Tutupnya mantap.

Kami terdiam dalam kesepakatan bahwa yang dikatakan Mirzandi bisa jadi benar. Ia benar-benar membuat tawa kami yang sebelumnya meledek menjadi diam.

“Selamat bermain petak misteri, manusia kecil!” Lanjut Mirzandi sambil mengecilkan volume suara. Ia lalu mematikan senter mininya.

Kami segera beranjak menuju gedung sekolah. Briefing dari Mirzandi memang cukup mengerikan, namun tidak cukup membuat rencana kami batal malam itu. 20 orang, termasuk bang Anton pembina kami, ikut pergi ke gedung sekolah. Di sana kami mengundi satu teman untuk menjadi penjaga pos penjagaan.


Petak Umpet Misteri

Permainan petak umpet itu dimulai. Kami mulai mencari tempat persembunyiaan. Waktu kami untuk pergi ke tempat persembunyian hanyalah 60 detik. Ronde demi ronde berlalu. Semua berjalan tanpa ada halangan apapun. Kemudian tibalah ronde kesekian. Saat itu jam menunjukan pukul 23.30. 

Selama bermain, tidak ada satu pun dari kami yang berani bersembunyi sendirian. Aku sendiri memilih untuk bersembunyi dengan Mirzandi si ‘Dukun pohon jati’. Sebenarnya bukan aku yang meminta namun dia. Meskipun Mirzandi kerap bercerita horor di depan kawan-kawan namun dia sebenarnya adalah seorang penakut.

Saat kami pergi menuju tempat persembunyian, mulutnya basah komat kamit segala doa. Terkadang ia menyempatkan diri untuk menyapa pohon di sekitar. Menurutnya, di setiap pohon terdapat satu penghuni. Oleh karenanya sangat tidak etis seandainya kita melewati halaman depan rumah seseorang tanpa menyapa penghuninya.

Kulunuwun mbah, permisi mbah” sapa Mirzandi bergetaran.

“Mir jangan berisik, ntar yang jaga pos denger!” jawabku.

“Ah kau ini, bodo amat dengan penjaga pos, makhluk di sini lebih penting” jawab Mirzandi tanpa bergurau. Ia menjadi pribadi yang serius malam itu.

“Nah itu, kau malah tidak sopan bilang persetan” jawabku bercanda.

“Eh maaf mbah, nuwunsewu mbah” lanjut Mirzandi.

Aku dan Mirzandi pada ronde ini memutuskan untuk sedikit nekat. Kami mencari tempat persembunyian yang beda. Kami berdua berjalan perlahan mendekati gelap barisan pohon jati. Saat sudah dekat, aku menjadi mengerti mengapa tempat ini begitu ditakuti. Tempat itu memang benar-benar gelap. Aku bahkan hanya dapat melihat barisan terdepan pohon-pohon itu. Barisan di belakangnya hitam tanpa warna. Di antara barisan pohon yang nampak itu, kami melihat sebuah balai kecil. Kami memutuskan untuk bersembunyi di sana.

Jam menunjukan pukul 23.35 saat aku dan Mirzandi dengan hati-hati masuk ke balai tadi. Bangunan kecil itu hanya terdiri dari sebuah ruangan berukuran 2x4 meter. Di dalamnya terdapat sekitar 12 kotak kompos kusam yang digunakan oleh salah satu klub ekstrakurikuler yang diikuti Diana. Mereka tersusun rapi memenuhi ruangan itu. Kami tidak ingin merusak barang milik mereka. Setiap langkah dalam gelap ruang itu kami buat sehati-hati mungkin. Gedung itu merupakan bangunan terluar dari kompleks gedung sekolah kami. Setelah bangunan ini, hanya ada barisan pohon jati yang gelap dan mencekam.

Ketika kami baru masuk, balai itu sangat gelap. Perlahan mata kami mulai terbiasa dengan kegelapan, dan sedikit demi sedikit pandangan kami muncul. Saat itu aku merasa menjadi seekor kelelawar yang dapat melihat daam gelap. Sebenarnya perasaan ini sering muncul ketika berada di kamar asrama malam-malam. Namun kali ini sensasinya berbeda mengingat kami berada di dalam bangunan terluar di dalam kompleks sekolah kami.

Mataku berjalan ke seluruh sudut balai dan mendapati sebuah papan putih yang berisi beberapa baris tulisan. Langkahku bergerak mendekati papan itu untuk mencari tahu pasti rangkaian tulisan yang ada. Ternyata, goresan spidol yang kupandang menerangkan susunan panitia club dan jadwal piket yang mereka tetapkan. Di antara tulisan itu, nama Diana tercantum. Dari yang kutahu, dia adalah sekretaris club ekstrakurikuler kompos. Namun aku baru mengetahui bahwa jadwal piket Diana adalah hari Jumat.

Diana pasti ke balai ini siang tadi. Hanya berjarak beberapa jam sebelum aku masuk sini. Pasti aromanya masih tertinggal di sudut-sudut balai ini. Aku mencoba menarik nafas dalam untuk menikmatinya. Tapi sekuat apapun kutarik nafas, hanya aroma kompos yang masuk hidungku. Ah betapa naifnya anak SMA. Aku bahkan bahagia mengetahui bahwa kami memasuki ruangan yang sama dalam satu hari.

Akan kuceritakan pada Diana bahwa aku telah mengunjungi balai kompos di hari piketnya. Dia pasti akan penasaran untuk apa aku ke sana. Dan ini bisa kujadikan topik pembicaraan saat ada kesempatan ngobrol nanti. Senangnya hati ini. Aku hanya tersenyum sendiri di depan papan tulis itu. Mirzandi yang berada di dekatku tak mengetahui tingkah kecilku ini. Ia hanya diam mengamati sekitar sembari berharap si penjaga pos tak menemukan tempat persembunyian kami.

Awalnya kami cukup puas karena setelah sepuluh menit berada di bangunan ini, tidak ada seorang pun yang dapat menemukan kami. Ini berarti pengembaraan nekat kami berhasil. Namun setelah hampir dua puluh menit berlalu atau pada pukul 23.55, belum ada juga yang menemukan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke pos dengan anggapan bahwa hanya kamilah yang belum ditemukan. Dalam perjalanan menyerahkan diri itu, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan keras.

“AAAAA!!!”

“Mir suara siapa?” tanyaku sambil menatap Mirzandi.

“Lari Win!” jawabnya meninggalkanku.

Sialan memang Mirzandi, dia memaksaku untuk mengikutinya lari padahal jalur yang harus kami lalui gelap. Beberapa saat kemudian Mirzandi terjatuh. Kakinya masuk keselokan sedalam 1 meter. Aku segera menghampirinya untuk membantu. Mirzandi lalu sadar kalau kakinya berdarah. Mengetahui itu mukanya berubah pucat.

“Ini gak beres Win, kita harus keluar dari sini!” katanya dengan nafas berlarian.

“Bentar Mir, pelan-pelan saja. Kamu luka!” jawabku.

“Lari tolol!” teriaknya sambil berdiri. Ia segera berlari kencang.

Tanpa menjawab aku mengikutinya berlari. Aku tidak mau jika harus tertinggal dalam gelap sendirian. Kami terus berlari hingga menemukan teman-teman lain sedang berkumpul membuat sebuah lingkaran. Aku dan Mirzandi segera mendekati mereka. Di sana juga hadir bang Anton pembina kami.

“Semua tenang dan kembali ke asrama sekarang!” seru bang Anton.

“Ada apa ini, siapa yang teriak tadi?” tanyaku.

“Kalian ke asrama dulu, kalian bisa tanya di sana!” jawab bang Anton.

Legenda baru

Kami segera berkumpul di area mushola. Faiq yang pingsan dibawa ke kantor asrama untuk dirawat. Tak ada yang nampak ceria pada saat itu. Semua cemas dan penuh tanda tanya.

“Siapa yang tadi teriak?” tanyaku lagi pada semua.

“Tadi Faiq yang teriak. Pas lagi jaga dia melihat sesuatu dan jatuh pingsan” jawab Ariza.

“Ah omong kosong, itu kan cuma buatan Mirzandi saja. Faiq pasti cuma terpeleset” sautku agak gemas.

“Hei Win, hati-hati kamu kalau bicara!” Jawab Mirzandi sedikit kesal.

“Ayolah Mir, tadi kita sembunyi di balai kompos tapi gak liat apa-apa. Kita diam dua puluh menit di sana, gak ingat kamu?” jawabku menekan.

Aku sedikit kesal karena di saat seorang sedang pingsan, Ariza justru mencoba membuat cerita horor tentangnya. Aku amat yakin kali ini Faiq hanya terpeleset saja. Mungkin dia kaget, mungkin dia melihat seekor tikus. Di samping sekolah ada sawah dan pasti banyak tikus. Kita harus sedikit tahu waktu kapan bercerita horor dan kapan bernalar dengan akal sehat. Saat Faiq sedang pingsan seperti ini, kita seharusnya merawat dia. Bukan sibuk menjadikan ceritanya sebagai legenda horo baru.

“Ayo kita tengok Faiq, masa mau cerita horor di sini!” Ajakku pada kawan lain.

“Sebentar Win, kamu barusan bilang kalau kamu dan Mirzandi bersembunyi di bangunan kompos?” tanya Anggono memotong.

“Iya Gon, ayolah kasih tahu teman-teman kalau semua ini cuma kecelakaan. Faiq terpeleset karena melihat tikus” desakku.

“Bentar Win, jadi pas Faiq teriak kalian ada di mana?” tanya Anggono sedikit menyelidiki.

“Gon kamu adalah orang paling logis di kelas ini, masa kamu mau ikut-ikutan merangkai kisah horor?” jawabku pada Anggono.

Anggono bukan juara dalam hal prestasi di kelas kami. Namun aku amat mengenalnya sebagai orang yang sangat logis. Ia tidak akan berbicara berdasarkan desas-desus. Anggono akan selalu mencari bukti dari semua kabar yang beredar. Kadang hal-hal yang tidak sempat kita pikirkan bisa Anggono jelaskan dengan logikanya. Suatu hari, setengah dari penduduk asrama terkena diare termasuk diriku. Praktis semua menyalahkan dapur sebagai penyedia makanan. Namun saat itu Anggono tidak berpikir demikian. Ia berpendapat bahwa diare dialami karena kecerobohan siswa-siswa sendiri. Siswa yang tinggal di asrama biasa bermain bola lalu tidak segera cuci tangan waktu makan. Penjelasan ini kemudian mendapat sanjungan kepala dapur yang sempat diancam pemecatan.

“Pertanyaan ini penting Win, kamu sama Mirzandi ada di mana saat Faiq teriak?” tanya Anggono, kali ini sedikit mendesak.

“Aku dan Mirzandi. Kami sedang berjalan menuju pos jaga dari balai kompos. Kami sebelumnya sudah berada di bangunan itu selama dua puluh menit” jawabku menerangkan.

“Oke sekarang semua masuk akal, kamu tahu kenapa Win?” tanya Anggono.
Aku menggeleng tanpa sempat bertanya balik.

“Faiq menjerit ketika ia tiba di depan bangunan kompos, ia melihat sesuatu di sana lalu berlari. Ketika berlari ketakutan, ia jatuh dan terbentur tembok dan pingsan!”

Mendengar penjelasan ini semua segera ribut dan bertanya. Semua pandangan kini tertuju pada diriku dan Mirzandi. Mirzandi langsung sadar akan isyarat ini dan mulai berteriak.

“Win di bangunan itu win, kita gak sendirian win. Kita udah jalan pergi dari balai itu waktu Faiq teriak. Win kamu harus percaya ini!” teriak Mirzandi padaku.

Aku memang menikmati setiap cerita horor yang ada. Mereka membuat perasaan berdebar-debar yang menghibur setiap pendengarnya. Apalagi jika kisah itu meninggalkan tanda tanya. Misal dalam sebuah cerita terdapat tokoh utama yang menghilang lalu ditemukan dua hari kemudian di tempat lain. Kisah seperti itu pasti meninggalkan tanya, siapa yang mengambil? Bagaimana dia bisa muncul dari kehilangan?

Cerita penuh tanda tanya seperti ini jauh lebih menarik dari pada kisah “Seorang anak yang bertemu pocong”. Di kisah itu tidak ada yang bisa dipertanyakan karena hanya mengungkapkan fakta. Mau sebagaimana hebat narasi, sangat jelas inti ceritanya, bahwa seorang anak dipertemukan dengan sosok pocong di suatu tempat.

Kisah Faiq sayangnya masuk ke golongan pertama yang penuh tanda tanya. Kami belum tahu apa yang dilihat Faiq hingga ia berteriak. Aku yang menolak untuk percaya pada penjelasan mistis ikut ragu dan sekarang menjadi sedikit percaya karena terlibat langsung dalam plot itu.

            Faiq masih dirawat di kantor asrama. Malam itu asrama putra ramai dengan cerita Faiq yang pingsan melihat sesuatu di sekitar balai kompos. Dia mendadak menjadi terkenal dan masuk ke jajaran cerita misteri top. Anggono masih mencari penjelasan logis akan peristiwa itu. Sementara itu, aku dan Mirzandi masih keheranan dengan diri kami sendiri. Kenapa kami tidak melihat apapun saat kejadian tadi berlangsung. Kami juga sangat tenang bersembunyi di balai kompos itu. Apa yang sebenarnya Faiq lihat?