Tampilkan postingan dengan label NEGERI DONGENG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEGERI DONGENG. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juli 2012




Ini bukan posisi favoritku. Namun sudahlah, aku sudah bermain cukup lama di lini pertahanan lawan tetapi hasilnya tetap saja nihil. Empat puluh lima menit dan aku hanya kebagian satu kali percobaan. Itu pun dengan mudah ditangkap oleh penjaga gawang. Pertahanan mereka terlalu kuat sementara aku bukanlah pemain bertipe fighter seperti Didier Drogba. Setiap kali bola datang entah dari bawah atau atas, akhirnya sama. Pemain belakang mereka menabrak lalu merebut bolanya.

Lebih parahnya lagi aku terbawa emosi. Sewaktu ketika salah satu dari pemain belakang mereka menabrakku. Aku terjatuh dan melihat orang itu merebut bola dan berlari ke arah gawang kami. Amarah tadi mendorong badanku berdiri dan mengejarnya. Setelah cukup dekat aku sangkutkan kaki kananku pada kakinya. Mampuslah dia terjatuh

Rabu, 11 April 2012




Endonezya’nın Jogjakarta şehrinde güzel bir tapınak vardır. Onun adı Prambanan. Meşhur bir efsaneye göre önce tam bin tapınak varmış. Ama maalesef bugün sadece onlarca kaldı. Bu tapınaklar nasıl, ne şekilde yapılmış, şimdi onu anlatacağım.

Bir gün Jogjakartanın büyük padışahının kızı yaşarmış. O çok güzel bir kızmış, herkes ona hayranmış. Bir gün güçlü bir delikanlı kıza evlenme teklif etmiş. Padışah izin vermeden delikanlıya kıza kendisi’nin teklif etmesini şöylemiş.

Kamis, 22 Desember 2011



Oh betapa beratnya tugas seorang raja di zaman ini. Dalam rangkuman itu terlihat jelas betapa bermasalahnya dunia ini. Keadaan Negara lain hampir sama semua, tak ada yang begitu maju dan tak ada pula yang begitu kaya. Aku baru menyadari bahwa Taman Nasional Yellow Stone telah meletupkan gunung berapinya. Letusan itu tak sebesar yang diperkirakan para ilmuan. Namun musibah itu sudah cukup untuk menghantam superioritas Amerika. Lima puluh juta manusia menjadi korban dan kerugian sebesar seratus trilliun dollar. Bill Gates dan puluhan orang terkaya dunia yang berpaspor Amerika terpaksa memberikan harta mereka. Banyak pesawat tempur yang dijual cuma-cuma ke Negara-Negara tetangga. Ditambah musibah tenggelamnya dua kapal induk di tengah Samudra Pasifik. Menambah duka dan luka raja dunia itu.

Minggu, 18 Desember 2011



Aku berjalan bersama dua orang pengawal. Mereka tak mau memberi tahu nama mereka kepadaku. Kata mereka demi urusan keamanan kerajaan. Betapa pun aku memaksa mereka tetap tak memberi tahunya. Bahkan ketika aku ancam pekerjaan mereka, mereka justru memilih untuk dipecat dari pada harus membeberkan nama mereka kepadaku. Tentu segera kutarik ancaman itu. Siapa pun pasti setuju bahwa pemecatan berdasarkan hal sepele bukanlah hal yang bijaksana. Apalagi diriku sebagai seorang raja. Apa kata rakyatku bila benar-benar pemecatan itu aku lakukan.

“ Selamat pagi Tuanku silahkan duduk” sapa Angin dari dalam bale



Aku begitu terkejut pagi ini, benar benar terkejut. Kamarku berganti ketika satu per satu mataku  terbuka. Kasur kecilku melebar dan terdapat tirai-tirai indah di pojok pojoknya. Bantalku juga membesar dan bertambah dua biji. Aku makin dikagetkan ketika bunyi dari pintu datang. Saat itu pandanganku berceceran ke seluruh penjuru kamar. Benar-benar aneh bentuk rupa kamar tidurku. Komputerku masih ada hanya saja mejanya berubah dan kursi belajarku bertransformasi menjadi kursi-kursi para bos kantor yang biasa aku saksikan di film-film. Ada apa ini pikirku? Apakah aku masih bermimpi? Kemudian suara ketukan pintu itu berbunyi lagi. Mataku kali ini terfokus ke sana.

Senin, 12 Desember 2011


“How are you Jane? Is everything okay?” It was my daily question as I pass her by the street after school.

But she never answer, she sat still staring at nothing but a wall across the street. Her face looked so pale. In fact her whole body looked pale. I know she might be having a problem but couldn’t she just answer my questions. Or at least gaze me for a moment.

Rabu, 07 Desember 2011


Uzun süre önce, batı Endonezya’daki sumatra adasında bir anneyle delikanlı yaşıyorlarmış. Bu delikanlının adı Malin Kundang diye adlandırılmış. Onun babası o çocukken vefat etmiş. O yüzden bu aılesinin zor yoksul bir hayat yaşıyorlarmış. Malin Kundang duzenli ve sağlam bir adamış. Her gün o denize gidiyormuşö balık tutmuş. Ondan sonra pazar’a balıklar getiriyormuş, halka satıyormuş.

Senin, 15 Agustus 2011

Pada suatu hari, tinggalah seorang pemuda berparas tak tampan bernama Tandon, di sebuah perguruan yang tereletak jauh di atas bukit sekitar dua ratus kilometer barat daya kota Mangga ibukota desa Cabe pulau Bintang. Dia berasal dari pulau Kelawas dan tengah merantau ke Bintang untuk belajar menanam buah di Institut Perbuahan. Dengan bermodal ala kadarnya dia menumpang kapal batu bara milik pamannya untuk menyebrang ke Pulau Bintang. Pamannya yang kebetulan memiliki kenalan di sebuah perguruan menitipkan Tandon di sana. Pemilik perguruan memang sangat dermawan, Tandon dibolehkan tinggal di sana secara cuma cuma. Segala kebutuhan seperti makan air dan tempat tidur disediakan untuk Tandon dan sebagai gantinya Tandon hanya perlu menjaga anak anak perguruan di pagi dan malam hari saat jam belajar mandiri berlangsung.


Sabtu, 23 Juli 2011


Once upon a time there lived a great kid named Budi. He was born with only one lung working. It was a genetic problem for the reason that his mother was a heavy smoker and drank a quite amount of alcohol during her pregnancy. Budi loved soccer pretty much since his second birthday. By the age of five he was already good at kicking with both of his leg. Unfortunately his lung never let him play more than fifteen minutes. Any extended time would cause fatal effect and could even bring him to death.

Senin, 23 Mei 2011




“Keparat ternyata si Roni main api!” Bastian menggerutuk melihat Roni makan mie bersama Tasya di sebuah kedai sore itu. Tanpa lama menunggu dihampirinya Roni lalu dengan segenap tenaga tangan kulinya, Roni terkapar jatuh. Tasya yang kaget melompat menghindar melihat Bastian ngamuk mengumpat-umpat. Baik asu maupun segawon keluar semua dari mulut mengiringi pukulan demi pukulan. Roni tak sadar menutup mata tapi nafasnya masih ada. Mukanya tampak merah memar sedikit berdarah.

Jumat, 25 Maret 2011

Siang itu Luna telah siap di pekarangan rumah. Berdandan cantik mengenakan celana jeans ketat dan kaos merah serupa darah. Ia menanti kekasihnya Berry yang akan menjemputnya tepat pukul 13.00 siang ini. Hari ini adalah hari valentine dan Berry telah menjanjikan sebuah kencan manis di tepi kota. Berry telah bercerita bahwa tempat kali ini istimewa karena letaknya di atas bukit Barbuta. Lima belas kilometer selatan kota Seramang.

Kamis, 03 Maret 2011



We had waited long enough for anymore attacks that day. There wasn’t any major threat after the first bombing. Sergent Marman commanded our troops to retreat to a building some hundred meters to the north of our current place. We walked carefully wary of any ambush coming from any corner of the street. Two injured soldiers and the medics were also with us.

Selasa, 15 Februari 2011



It was on March 2012 when the world war three entered our land Java. Jakarta and Bandung had been bombed by the alliance of China. My mother, my sister and my little brother were forced to move out from Java. I wasn’t sure of where they’re going but it would be likely for them to be placed in Borneo or Celebes.

Sabtu, 05 Februari 2011

Pagi itu aku dibangunkan oleh panggilan sholat subuh dari masjid. Hari masih gelap namun dapat kudengar suara ayam ayam jago saling berkokok membangunkan seluruh kampung. Tubuhku masih terbaring lemas di atas kasur. Ku raba kepalaku dan dapat kurasakan kulit halus. Kepalaku kosong, rambut rambut putihku telah pergi. Mahkota yang selama ini menjadi kebanggaan kini hilang tak sudi lagi menghuni.

Kamis, 30 Desember 2010

Dua roda besar berputar perlahan
Di belakangnya sebiji lagi lebih ringan
Dalamnya kompor panas tertahan
Kecap, saos, sambal berbaris berdampingan