Tampilkan postingan dengan label SEKITAR KITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEKITAR KITA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016


Kehidupan di negeri kami banyak berputar pada sepeda motor dan asap emisi. Siang adalah waktu mengais rezeki dan malam hanyalah keheningan sekejap yang akan diselimuti siang lagi.

Alam hijau yang ada terlalu suci untuk dihuni, sehingga kami enggan datang mendekati. Surga hijau yang amat luas itu hanya jadi tempat rekreasi musiman dan tak bisa kami ikut sertakan dalam hati.

Sering kali kami mendengar berita terbakarnya hutan yang menyebabkan kebencian negara sekitar. Para tetangga tidak habis pikir dengan kelakuan kami yang membakar ribuan pohon hanya untuk dibuat menjadi meja dan kursi. Mereka kesal karena kami tidak bersyukur dengan limpahan sumber kehidupan dari hutan yang ada. Sedangkan negeri mereka selalu gersang tanpa sedikit kerindangan.

Duhai kalian ketahuilah, kami tidak pernah dekat dengan hijau yang rimbun itu. Karena sesungguhnya kehidupan di negeri kami lebih banyak berputar di sepeda motor dan asap emisi. Siang adalah waktu mengais rezeki dan malam hanyalah keheningan sekejap yang akan diselimuti siang lagi.

Sore hari itu jalanan kota padat ratusan pengemudi sepeda motor. Para penunggangnya lelah mengais rezeki siang tadi. Nafas mereka sesak menghirup asap emisi kendaraan. Tak ada waktu berpesta karena masa depan anak harus jelas terencana. Tak hanya pendidikan, anak-anak sekarang butuh berbagai perangkat elektronik dan tunggangan berkendara.

Lampu merah menghentikan laju para pengemudi sepeda motor. Pemberhentian itu menambah beban yang ada karena ia merampas waktu mereka untuk  bercengkerama dengan keluarga. Tak ada lagi dongeng wayang atau bahkan waktu makan malam bersama. Semua lelah begitu tiba di rumah. Mereka harus tidur karena malam hanya datang sebentar.

Kehidupan di negeri kami terus berputar pada sepeda motor dan asap emisi. Siang adalah waktu mengais rezeki dan malam hanyalah keheningan sekejap yang akan diselimuti siang berikutnya.

Esok hari satu dari ratusan sepeda motor tadi berubah menjadi mobil. Dan esok sore itu, jalanan kota digenangi ratusan sepeda motor dan sebuah mobil. Para pengemudi masih sibuk menyiapkan masa depan anak-anak mereka.

Kamis, 02 Juli 2015

Di zaman sekarang, semua peristiwa berlangsung begitu cepat dan padat. Tak jarang dari kita yang menganggap 24 jam tidak cukup untuk dijadikan satu hari. Hasilnya, orang menjadi terburu-buru untuk mengejar jam masuk kantor, mengejar deadline tugas atau mengejar jatuh tempo lainnya.

Waktu 24 jam yang biasanya luang harus ditukar dengan kesibukan sehari-hari. Hasilnya waktu luang hanya tersisa sedikit bahkan habis. Tak ada lagi jatah untuk lingkungan sekitar. Tidak ada lagi waktu untuk menyapa satpam kompleks atau memberi senyum pada orang lewat. Bahkan jarang sekali yg mau sekedar menyebrangkan seorang nenek di pinggir jalan.

Apakah waktu benar-benar menyusut atau kita yg tak sadar akan apa yg terjadi?

Tahun 1977 Psikolog bernama John Darley dan Dan Batson melakukan tes pada sejumlah mahasiswa. Dalam tes tersebut para mahasiswa diharuskan untuk melakukan pidato di ruang dekan yg terletak di gedung sebelah ruang kuliah mereka.

Ketika waktu pidato tiba, mereka yg telah tiba di gedung dekan dibagi menjadi 2 kelompok:
1) Mereka yg diberitahu kalau mereka telat dan harus segera menuju ruang dekan untuk pidato
2) Mereka yg diberitahu kalau masih ada waktu banyak sebelum giliran mereka tiba.

Sebagai tambahan dalam tes ini, John Darley dan Dan Batson menugaskan seorang relawan untuk berdiri dan pura-pura batuk  di lorong menuju ruang dekan di mana pidato akan berlangsung. Dan apa yg terjadi?

Dua informasi yg disampaikan sebelum pidato tadi punya pengaruh besar. 90% dari mereka yg diberitahu telat tidak menggubris orang batuk itu. Mereka berlari langsung menuju ruang dekan. Sebaliknya mereka yang diberitahu bahwa masih ada banyak waktu, berhenti dan membantu.

Fenomena ini kemudian diteliti lebih lanjut oleh Robert V Levine pada tahun 2003. Ia berkunjung ke beberapa kota di berbagai negara. Di sana ia mengamati kecepatan transaksi di bank, kecepatan rata2 orang berjalan, serta kepedulian pada sekitar. Ia mendapati bahwa:

1) Kota maju yg sibuk seperti New York dan Tokyo, kehidupannya berlangsung terburu-buru. Warganya nampak mengejar sesuatu dan cenderung tidak peduli dengan orang lain. Mereka tidak banyak membantu orang kesusahan di jalan atau bahkan untuk mengambilkan topi yg jatuh.

2)Kota yg tidak begitu maju seperti Mexico City, penduduknya sedikit lebih santai dan mereka lebih peka menyebrangkan nenek2 atau sekedar mengambil barang yg tidak sengaja terjatuh.

Dua penelitian ini sangat menarik untuk diamati. Di tes pertama para mahasiswa sebenernya punya waktu yg sama hanya informasi yg membuat mereka bersikap berbeda. Di tes kedua, warga di berbagai kota itu juga punya waktu sama 24 jam dalam sehari. Tetapi karena perbedaan kemajuan, sikap mereka jadi beda.

Waktu tidak benar benar-benar menyusut, hanya saja kita diberitahu oleh lingkungan sekitar bahwa kita akan telat dan harus bergegas. Mungkin saja mereka sebenarnya sedang mengetes kita.

Tidak sepadan jika kepedulian pada sekitar harus diabaikan karena keterbatasan waktu. Padahal waktu tidak pernah bertambah atau pun menyusut.

Sempatkan menyapa sekitar. Tidak perlu satpam kompleks, mungkin orang tua kita yang jauh di rumah, adik kita atau sahabat kita.

Selasa, 30 Juni 2015

Rainbow

This summer is quite different from previous ones. Its been raining a lot and the good news is lots of rainbows are forming afterwards. Beautiful views and of course the good thing is it cools the hot day out from summer. At the same time other rainbows also emerged but from different source. Following the legalization of homosexual marriage in the US, millions of rainbows around the world have their spirit pumped. They saw hope and opportunity to pronounce their sex preference that have long been rejected in almost everywhere around the world. Well of course this took the attention of many and as they have been rejected before, most refuse to agree with this "homosexual" way of life. I can say only few agreed because from 2045 of my facebook friends about 10-20 person said yes to "homosexual".

Here I would also like to express my feeling on them. But before stating my views I would like to comment on these 10 to 20 persons positive opinions on them. Their main support ideas were "Love is blind as anyone can love anything and anyperson", "They never want to be, they were just born like that naturally, by fate", "Homosexual are human and their way of life must be respected" and "Minorities must be supported instead of being oppressed". I find these comment a little worrying because it is fed up with unclear reasons. Lets take a look at them up close:

"Love is blind as anyone can love anything and any person"

LGBT are talking about love as if it is a very narrow matter. Love is considered by homosexual and their supporters as a relationship between two different person. What about the family and the neighbours, aren't they worth loving? Or the nature that brought them up until now?

Homosexual that is trying to love some other homosexual is disappointing many of their relatives. Most of them I believed, come from a religious or at least a normal straight family. They have chosen to sacrifice their family's hope by choosing a homosexual way of life. They forgot how dependent they were to their parents when they were a child. And in just a matter of years during highschool or college, they drop everything and said "You know what, I think I am a homosexual". The love from many members of the family were just traded off by a love to a single being.

Besides that, homosexual and their supporters have neglected the fact that love comes in to various forms as: brotherly love, Godly love or natural love, parental love, erotic love and so on. Their view of love is so narrowed into erotic love that they don't care about other forms of love.

Homosexuals are not a loving being as a whole. When a person choses to become a homosexual they immediately lose their potential to have a parental love, or the love of raising a children. They don't have a Godly love because they are no longer in line with human nature where men are suppose to be partners with women. They can no longer have a brotherly love because for homosexual man, other men are just attractive and sexually appealing beings. This is not about love, this is just homosexuals creating a narrow meaning of love.

"They never want to be, they were just born like that naturally, by fate"

Homosexuals are of course non-religious but they are trying to be religious at the same time by using the word "fate". Homosexuals will never believe in God because many scriptures just don't accept such a way of life. However, they are also using religious term. They think that their situation as being a homo is a fate or given by God. Which God gave fate to a man to love another man? Loving is a matter of choice not  fate. People decide upon whom to love, so it's never something given. Homosexual had the choice but they prefer the strange and hard road.

Well may be not "fate" for those atheist homosexuals, but something that was brought naturally. Speaking of natural events, scientifically homosexuals are not natural at all. Out of millions of species that roam the earth, homosexuals are the only ones who are not interested in mating with different genders. Every species of animals is divided into male and female sexually. And at some point, they would have to mate to reproduce. Homosexuals don't do this. And in Darwin's theory of evolution, they are a failed product because they are unable to continue their genes. Its never natural or fate, they just homosexuals choose to be like that.

"Homosexuals are human and their way of life must be respected" 

Respect is a very noble and widely used term but there is a way in utilizing it. Who is suppose to respect whom?  

Imagine an apartment that have been in the neighbourhood for many decades is occupied by one hundred normal families. Some days ago a homosexual couple moved in. After that on, previously living residents started to get unconfortable seing two men kissing in the balcony. What are they suppose to do? Respect the homosexual couple and leave them kissing in the balcony? In this case, who is supposed to be respecting whom? How many years have normal human been living normally around the earth.

Thousands of years of established civilization was interupted by a sudden legalized homosexual marriage. And now we see this homosexual roam the street protesting, trying to claim their right. Their acts is violating the concept of respect. Lets put it like this, I am from Indonesia, a country of fishery. Currently I am living in Turkey and I have been here for four years and suddenly I come to downtown Ankara to protest on "legalizing squids in Turkish restaurants". Would you expect me to do that?

"Minorities must be supported instead of being oppressed".

How many minorities are there in the world today and why must we consider homosexuals as a priority to support. We have minorities that can not freely live in a country, another minority that have difficulties in retaining living comfort because of war and other minorities which has much more urgent need to be supported, Just because homosexuals are legal now in USA doesn't mean they become an important issue to consider worldwide. Lets be fair in treating minorities.


Why Homosexual are not Worth Supporting

Homosexuals rigth now are attempting to get their voice accepted by the world community. They want people to receive their unwanted fate. Because they were born like that and nothing can be done to change their behaviour. But one thing homosexuals must take into consideration. For a strange group to be accepted in the community, it has to qualify some requirements and here are some:

1. Beneficial to the world.

Let us first discussed the homosexual history that dates back thousands of years ago. Throughout the history, these type of human have been rejected by many civilization. And it is very unfortunate that none of the homosexuals made a great history like Pharaoh, Alexander the Great, Salladin or Benjamin Franklin. Their only clear record were mentioned in the Bibble and the Quran with not a very pleasant facts. 

Well I don't want to say much about their stories in the holy book but my point here is homosexuals have never been very beneficial to the world. After thousands of years their group's interest was only in having to be able to love other humans with the same kind of genitals. If homos were beneficial enough to the world they would have been recorded as a great general, or a noble scientist or a famous painter, By mentioning these occupations, I am actually referring to a big names, not those on television right now. So up till now they are not yet beneficial to the world, and no need to be supported. (I have to admit the enigma guy was cool)

2. In line with human nature.

This is probably the most important requirement and homosexual fail to fullfill it. Homosexuals first of all choose to go againts nature. Out of all living creatures that tries to strive to reproduce on earth, homosexual comes out from nowhere to say no to reproducing. Yet they are a product of this men+women reproduction system where a female mates with a male to produce offsprings.

Humans have been successfull because they reproduce. By reproducing, human create a legacy, a family where they are able to pass on their qualities throughout generations. But this way of life seem to be unsuitable for homosexuals. They are currently pursuing their rights but are not willing to pass this spirit towards the next generation. All they do is wait for a normal couple to have kids and hope that the newborn could someday become a homosexual and finally supports their way of life. It's like a parasite that doesn't want to reproduce. Well you know, even the most annoying parasitevare able to reproduce on their own without depending on others.


Homosexuals could have chosen a different path by just admitting that they wanted to try something different. Trying a different erotic love experience but not a long term one. But anyway, they are legalized now in some countries. So no need to say anything to them. I hope those homosexual that live in other country in which their status is not legal yet, have the time to change their mind. Stop faking life guys...

I am very sorry if you find this writting annoying or hurting, but you have to respect this view. After all I am also a human being and I have the right  to give my ideas right

Selasa, 23 Juni 2015

Dua perahu nelayan

Apa bedanya orang jatuh cinta dan orang mencinta. Dua hal ini kerap disamakan. Padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Jatuh cinta adalah petualangan sesaat penuh sensasi luar biasa. Sebaliknya mencinta adalah proses jangka panjang yang membutuhkan perencanaan dan konsistensi. Kebanyakan dari kita sebagai anak muda, menggolongkan keduanya menjadi petualangan sesaat saja atau disebut jatuh cinta

Saya ingin mendiskusikan keduanya berdasarkan pendapat Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving yang mengupas dua cabang cinta ini. Orang mencinta akan mempunyai topik bahasan yang luas namun tulisan ini akan lebih terfokus pada mengidentifikasi apa jatuh cinta agar pembaca tidak menyamakannya dengan proses mencinta. 

Jatuh cinta:


Anak muda pasti tahu kalau jatuh cinta itu indah dan memabukkan. Indah karena ia yang biasa melakukan apa apa sendiri, kini ada yang menemani. Atau yang biasanya bangun karena alarm,kini dibangunkan kekasih hati. Jatuh cinta juga memabukkan kepala yang tertimpa. Bayangkan saja, orang yang sedang jatuh cinta bila sedang melamun akan tersenyum sendiri, tertawa sendiri. Padahal untuk mencapai fase ini, manusia butuh bantuan asap ganja atau tenggakan minuman keras. Tetapi bagi yang jatuh cinta, mabuk tidak perlu merogoh kocek, ia cukup melamun membayangkan pujaan hati. 

Selasa, 12 Agustus 2014


RSUD Margono Purwokerto
Sudah beberapa tahun ini saya meninggalkan kota asal saya Purwokerto. Selama itu pula bahasa daerah Banyumasan (Purwokerto-Cilacap-Purbalingga-Banjarnegara) yang menjadi ciri khas kami sedikit pudar dalam ucapan. Sebenarnya kemampuan bahasa itu tidak pernah hilang ataupun berkurang. Hanya saja mulut ini enggan berucap apalagi jika akhirnya hanya akan menjadi bahan olok olokan. Di sini saya ingin bercerita sedikit dengan bahasa itu. Dalam pengucapannyua, bahasa ini dibaca sesuai dengan ejaan hurufnya.

Kamis, 17 Juli 2014

Aku pernah bermain dengan usilnya sampai kawanku enggan menemuiku lagi.
Waktu itu kami sedang bermain petak umpet siang hari, permainan itu begitu menghibur
sehingga kami memutuskan untuk melanjutkannya hingga sore menjelang senja.
Sayangnya kami begitu ketagihan hingga malam tiba pun kami tetap bermain.

Tentu saja permainan kami diselingi istirahat sholat dan makan. Jarak rumah kami berdekatan, oleh karena itulah tak menjadi masalah bagi kami untuk berkumpul kembali selepas makan, atau sehabis sholat.
Ketika malam tiba permainan menjadi makin seru karena gelap. Gelap membantu yang bersembunyi,
mereka menjadi begitu leluasa menghindar dari si malang penjaga pos penangkapan.

Memasuki malam gelap, energi kami berkurang namun keusilan justru datang. Sekongkol dalm persembuyian hingga saling menakuti terjadi di antara kami. Lebih dari itu, aku menjadi yang terusil dengan ide ide ingin menakuti yang lain. Tibalah saat seorang begitu menarik hati untuk diusili. Maka terlaksanalah rencana menakuti, dari semak, lalu serangan sampai muncul jeritan.

Rencana itu berhasil, dan mangsaku terjatuh terkaget-kaget oleh kemunculanku dari semak.
Sayangnya dia menangis dan mulai mengutukiku. Yang lain hanya bisa diam, beberapa berkomentar. Kebanyakan dari mereka menyalahkanku.
Padahal niatku hanya bermain, namun ternyata tak semua mengerti, termasuk dia.

Permainan kami semua bubar karena tangisnya, kini ia pergi berlari menuju rumah.
Yang lain masih di situ, mencoba meneruskan lagi.
Namun ketika pergi seorang, maka semangat lainnya menghilang.

Sehari berlalu, ia belum mau muncul, dua hari hingga seminggu pun masih sama.
Dia betul betul tak suka dengan laku jailku.
Kemudian beberapa bulan berlalu, dan masih marahnya padaku.

Kata kawanku ia tak marah, hanya enggan bermain lagi denganku.
Begitulah akhirnya, jailku menjadi bencinya yang tak hilang hingga berbulan lama.
Barulah, setelah entah berapa aku lupa, ia memaafkan.
Namun tetap saja, lakunya tak sama lagi dengan yang lalu.

Kini kami terjebak dalam sebuah ketanggungan.
Yang tertanggungkan sebenarnya dia, karena sungguh berpuluh maafku melayang sudah.
Ketanggungannya sungguh tak enak dilihat, apalagi didengar.
Seperti pertemanan yang diambang kehabisan.

Kawan, berhati-hatilah saat bercanda..................................................

Kamis, 27 Maret 2014

Selepas matahari terbenam dan hari jatuh dalam gelap, panggilan sembayang berkumandang. Jalanan sekitar ramai dilalui kendaraan, membawa pulang orang-orang. Klakson dan suara TOA berpapasan, saling sapa kemudian berlaluan.

Sementara itu ramai masih nempel di jalanan. Beberapa polisi berjaga, siaga apabila ramai jatuh dalam larinya. Setiap hari selama beberapa puluh tahun, ramai rutin lari-lari pada pagi dan sore. Usianya tak bisa dibilang tua namun polisi tetap berjaga pada sudut-sudut jalan yang menjadi jalur kesukaan ramai.

Aku ikut mengamati maraton tunggal ramai. Tak hanya mengamati, bahkan beberapa menit yang lalu ikut terlibat. Tadi aku turun di salah satu halte.

Sedari tadi kedua kaki diam berdiri tertopang tiang dalam bus. Kini mereka melangkah, menuju tempat istirahat. Melewati gang sepi.

Tak seperti ramai, sepi diam di antara himpitan rumah-rumah. Ia enggan memilih jalan hidup si ramai yang haru berolahraga dua kali sehari.

Sampailah aku pada suatu pohon, lalu berhenti. Di situ terduduklah badan, menikmati petang. Mengambil nafas lalu melepas kembali. Begitu berkali-kali sampai senada, irama antara mengambil dan melepas.

Lelah sekali, padahal sudah beratus hari berlalu. Lantas bagaimana bisa baru terasa lelah sekarang?

Ketika sibuk banyak tenaga kerja sana sini semua terlihat mudah. Urusan ini beres, yang itu selesai. Tiba tiba semua kacau.

Ternyata yang terlihat hanya menyenangkan mata. Organ lain tak terpuaskan pandangan. Jatuhlah satu persatu sampai seluruhnya. Kini terduduk badan, dengan kelelahan semua organ.

Menatap langit kemudian mencari Tuhan. Di antara bintang-bintang dan rembulan.

"Adakah Engkau melihat di sana, kelelahan organ-organ di bawah sini?"

Meski sunyi, sorot mata Tuhan menghujam. Memandangi hambanya yang lemah. Memancarkan harapan, yang sayangnya tak sampai pada si hamba. Pancaran itu nyata namun si hamba tak mampu mengambilnya.

Aku di sana, di antara pancaran itu diam. Pancaran itu lari ke sekitar,masih dalam jangkauan mata.

Organ-organ lelah ini belum bangkit, masih terduduk di bawah pohon tadi. Sinar rembulan dan bintang masih di sana bersama Tuhan. Memandangiku dengan keheranan.

"Ini harapan sudah terpancar, kenapa masih diam hamba itu? Selelah itukah? Selemah itukah?"

Mungkin itu yang terucap di atas sana.

Hamba dalam duduknya melanjutkan lamunan. Di antara sepi himpitan bangunan-bangunan. Di bawah pohon dan bulan bintang, masih dalam pengawasan Tuhan.

Senin, 16 September 2013


                Sekolah di SMA Semesta pasti meninggalkan kesan yang berbeda-beda pada alumnusnya. Hidup bersama dalam satu asrama membuat hubungan antar siswa di SMA Semesta lebih akrab dibandingkan milik mereka, siswa yang menempuh pendidikan di sekolah biasa. Bagaimana tidak, selama sehari semalam manusia yang ditemui oleh para siswa SMA Semesta hanyalah teman sekolah, guru-guru dan para pembina asrama. Alhasil kebiasaan-kebiasaan kecil, hingga hal seperti kepemilikan pakaian pun menjadi informasi yang dimiliki bersama.

Meski berkesan, masa-masa di Semesta tidak berlangsung selamanya. Seperti kata pepatah, di mana ada pertemuan di sana ada perpisahan. Setelah tiga tahun bersekolah, alumnus hanya bisa bertemu pada acara reuni, atau even mendadak seperti ulang tahun atau resepsi pernikahan. Alhasil setelah kelulusan, alumnus SMA Semesta praktis hanya punya sisa hari bertemu yang bisa dihitung.

Menghitung hari memang bukan hal yang lazim karena pada umumnya manusia ingin memiliki ribuan hari yang indah. Setiap perayaan ulang tahun, memiliki umur panjang menjadi doa langganan yang tak terlewatkan. Namun di balik optimisme menatap panjangnya hari esok, kita tidak bisa serta merta melupakan kenyataan bahwa hidup ini akan berakhir pada satu titik yaitu kematian. Kematian inilah yang menjadi inspirasi penulis untuk mengulas 1000 Days of Semesta.

1000 Days of Semesta adalah sebuah sudut pandang yang menawarkan alumnus untuk melihat perjalanan pertemanan di SMA Semesta secara realistis. Meski terdengar pesimistis, sudut pandang ini juga membawa serta aura positif. 1000 Days of Semesta akan mengajak kita sebagai alumnus untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa saja yang diperoleh selama berada di Semesta?  Seerat apa pertemanan yang telah terjalin? Apa yang bisa dilakukan dari sisa waktu yang ada? Dan berbagai pertanyaan lain berkaitan isu persahabatan di SMA Semesta.

Untuk memulai hitungan ada baiknya pembaca ikut menuliskan rincian hari yang akan dipaparkan dalam sebuah kertas. Penulis hanya akan mengajak pembaca pada hitungan hari-hari yang umumnya dilewati alumnus SMA Semesta. Setelah itu rincian hari yang telah di susun nanti bisa dirombak lebih lanjut untuk menjadi bahan berpikir.

“Berapakah jumlah hari yang kita punya bersama teman-teman?” akan menjadi pertanyaan utama selama mengulas 1000 Days of Semesta. Pastikan kalimat ini terpampang jelas dalam kertas hitungan anda.

1.       Masa di Semesta

Ada 365 hari dalam satu tahun. Jika kita kurangkan jumlah tersebut dengan libur akhir semester selama 6 minggu, serta beberapa minggu pada bulan puasa, plus beberapa libur nasional, kita akan bertemu dengan angka 300 hari selama setahun. Jadi secara keseluruhan seorang siswa menghabiskan 900 hari dalam hidupnya di SMA Semesta.

Jumlah 900 hari sebenarnya tidak mengherankan karena siswa-siswa di sekolah lain juga menjalani 900 hari bersama. Lalu jika demikian, apa perbedaan kita sebagai alumnus SMA Semesta dengan mereka?

Perbedaan ada pada sistem asrama yang diterapkan. Di sekolah umum, para siswa tidak benar-benar menghabiskan 24 jam bersama di sekolah. Mereka hanya bertemu sejak pagi hari hingga bel pulang berbunyi. Jika masuk sekolah kita ambil patokan pada jam 7 pagi dan pulang sekolah pukul 3 siang. Siswa di sekolah umum hanya menghabiskan 8 jam bersama. Dengan kata lain sepertiga dari waktu yang para alumnus SMA Semesta lewatkan. Yang berarti 300 hari kebersamaan dalam tiga tahun.

Tentu ada beberapa dari kita yang tidak genap tiga tahun berada di Semesta. Ada mereka yang keluar di tahun pertama, atau pergi pada tahun kedua. Namun sadarkah bahwa mereka pun memiliki waktu bersama atau jatah kebersamaan yang lebih dari siswa di sekolah umum?

Teman-teman SMA Semesta yang menghabiskan dua tahun mendapat 600 hari jatah kebersamaan, dua kali lipat dari mereka yang berada di sekolah umum. Teman-teman yang hanya setahun di Semesta bahkan mendapat jatah kebersamaan yang sama dengan mereka yang menempuh pendidikan selama tiga tahun di sekolah umum.

Dengan tinggal di asrama, tabungan hari kita menjadi jauh lebih banyak dibandingkan siswa di sekolah umum

2.       Setelah Kelulusan

Begitu banyak hari dilalui selama berada di Semesta, lalu bagaimana dengan sisa waktu yang ada setelah kelulusan? Mari kita mulai merincinya...

Sebuah angkatan biasanya akan mengadakan acara reuni selama beberapa tahun pertama pasca kelulusan. Kegiatan reuni umumnya berlangsung selama 6 hari, termasuk beberapa hari untuk kumpul-kumpul biasa. 6 hari bisa kita tetapkan sebagai waktu maksimal yang dapat dipakai satu angkatan dalam satu tahun.

Jika sebuah angkatan bisa tetap konsisten melakukan reuni dalam 12 tahun pertama setelah lulus (*lulus umur 18 tahun, 12 tahun kemudian alumnus akan berumur 30 tahun), angkatan tersebut akan bertemu pada jumlah 72 hari.

Setelah melewati usia 30 tahun, alumnus akan masuk pada fase kehidupan yang berbeda. Usia 30 hingga 60 tahun akan dipenuhi dengan kesibukan berkarir serta membina keluarga. Hal ini otomatis akan mengurangi jatah bertemu dengan teman-teman SMA. Frekuensi reuni akan berkurang dari semula tahunan menjadi dua, tiga atau bahkan lima tahunan.

Jika 2,5 tahun kita ambil sebagai titik tengah frekuensi reuni dan acara tersebut berlangsung 2 hari. Maka dalam rentan waktu 30 tahun, akan ada 24 hari lagi yang bisa kita luangkan untuk teman-teman SMA.

Jika kita tambahkan seluruh waktu reuni tadi (72 hari + 24 hari) maka sisa waktu yang kita punya setelah kelulusan adalah 96 hari. Penulis menambahkan 4 hari lagi, karena di atas usia 60 tahun, penyelenggaraan reuni dirasa cukup menyulitkan. Secara total, waktu yang kita miliki setelah lulus bisa digenapkan menjadi 100 hari.

Di sinilah proses menghitung “1000 Days of Semesta” selesai. Langkah selanjutnya ada di tangan para pembaca untuk menindak lanjuti angka-angka barusan.

Perbandingan 900 hari di semesta dengan 100 hari setelahnya mungkin mengejutkan untuk sebagian dari kita. Karena dari seribu hari yang ada, sudah 900 hari kita lewatkan. Dan besar kemungkinan 900 hari tadi terlewat begitu saja tanpa benar-benar kita resapi.

Jika dianalogikan dalam sebuah perjalanan dari pos Satpam Semesta menuju Simpang Lima di Semarang, perjalanan kita sebagai alumnus sudah sampai di Tugu Muda depan Lawang Sewu.

Lalu apa yang harus dan bisa kita lakukan di sisa kilometer yang ada sampai Simpang Lima?

Mungkin turun dari mobil mengulurkan tangan pada para pengamen?

Atau turun mengambili sampah yang ada?

Ngebut agar cepat sampai tujuan?

Berhenti sejenak untuk mengulur waktu?

Terus berjalan sambil menikmati kota?


Apapun itu kita akan sampai di Simpang Lima dalam waktu yang tak lama.

Kamis, 28 Maret 2013

Salam hangat dari Turki,

Apa kabar semua? Semoga selalu dilimpahi keberkahan

Hari ini muncul ingatan tentang keberadaan teman teman Sambachesta. Ada sebuah pertanyaan yang ingin saya bagikan kepada teman teman. "Apa yang bisa kita lakukan sebagai para mahasiswa?". Pertanyaan ini sebenarnya sudah saya diskusikan sedikit dengan beberapa kawan seperti Figur dan Faiq. Mungkin karena masing masing dari kami sibuk, tidak ada yang sempat untuk berbagi dengan kawan kawan lain

Sebelum masuk ke inti cerita, saya ingin bercerita sedikit. Ketika berangkat ke kampus, saya kerap memandangi kota Ankara melihat bangunan bangunan apartemen dan gedung gedung tinggi yang kukuh. Setiap saya baca koran akan ada berita baru tentang kemajuan pembangunan di Turki seperti jalur kereta cepat baru, jembatan baru atau kontribusi Turki terhadap pengadaan jet tempur terkini F-35. *Turki menjadi salah satu dari 9 negara kontributor. Tidak tanggung tanggug mereka memesan 100 buah. Saya sering kali merasa iri dengan negara ini dan membayangkan kapan Indonesia maju.

Mengapa saya membandingkan Turki dengan Indonesia. Sedangkan masih ada negara negara maju lain yang bisa saja saya jadikan tolak ukur.

Pertama karena kedekatan batin teman-teman sambachesta terhadap negara ini. Sejak SMA kita sudah familair dengan muka guru gurur dan abi abi orang Turki. Kita bahkan menyanyikan mars klub sepak bola Besiktas kala bertanding di Gor Sahabat.

Kedua, Indonesia dan Turki sama sama negara berkembang yang sedang hot secara ekonomi. Dalam G20 Turki dan Indonesia selalu berada berdampingan dalam dalam hal volume ekonomi. Meskipun jika dibagi dengan jumlah penduduk, pendapatan per kapita mereka bernilai 3 kali lebih besar.

Lalu apakah dengan membawa fakta fakta tersebut di sini, saya bisa mengajak teman teman untuk memajukan Indonesia? Tentunya tidak karena untuk mencapai hal itu dibutuhkan lebih dari sekedar keluarga besar Sambachesta. Seluruh warga Indonesia harus bekerja semua. Hal itu masih jauh dan sebaiknya tidak menjadi fokus kita.

Di sini saya tidak mengajak teman teman untuk membuat proyek pesawat atau proyek kereta cepat atau proyek besar lainnya. Saya hanya ingin menawarkan bagaimana kalau ke depannya kita berkerja sama.  Dengan modal kedekatan lahir dan batin yang telah kita bangun selama tiga tahun di Semesta, mari kita bentuk sebuah sebuah kelompok sosial, dengan nama Sambachesta tentunya. Kelompok ini bisa berkecipung di dunia bisnis, jasa, ilmu terapan dan kesehatan.

Jika melihat jurusan yang sedang diampuh teman teman dan latar belakang keluarga kita. Kita bisa membuka usaha waralaba sebagai contoh. Atau membuat perkumpulan anak anak teknik. Meskipun sudah banyak tersebar kelompok mahasiswa teknik, tidak ada salahnya kalau kita bisa mengembangkan sayap ke Sambachesta. Atau ikatan dokter Sambachesta yang bisa mendekatkan teman teman dokter. Sambachesta ke depannya bisa menjadi tempat bertemu berbagai bidang studi.

Perencanaan ini tentunya harus kita persiapkan dengan matang. Tulisan ini hanya sebagai wacana dan masih jauh dari eksekusi nyata. Untuk itu saya sangat ingin bertemu dan berdiskusi dengan teman teman di akhir tahun ajaran nanti.

Sadar atau tidak kita bukan lagi anak SMA Semesta yang harus izin jika ingin keluar asrama. 5-10 tahun lagi kita akan menjadi manusia dewasa yang terjun langsung di tengah masyarakat. Soal bakal terbentuk atau tidaknya kelompok sosial ini, tidak akan merubah rasa persaudaraan kita.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan pertimbangan teman teman.

Atas perhatiannya terima kasih.

Jumat, 01 Juni 2012




Kültür derken hemen aklına müzik, sanatsal, yemek ve dille ilgili şeyler gelir. Bu görüş doğru, ama aslında daha derin bir mana da var. Kültür yanı butün insanca öğrenilen davranış kalıplarıdır. Kültür bilgi, inanç, sanat, hukuk, ahlak ve toplum bir üyesi olarak insan tarafından satın alınan diğer yetenekleri ve alışkanları kapsar.

Kültür de burada üç çeşit var. Yerli kültür, alt kültür ve evrensel kültür. Yerli kültür gerçek yerden doğar. Mesala Çin kültürü Çinden doğar ve orada yaşar. Alt kültür iki veya daha fazla kültürlerin bir karışımdır. Örneğin Almanya’daki yaşayan Türkler ve Amerika’daki yaşayan Afrikalılar. Evrensel kültür yani her insanın yaptığı şey. Dil ile konuşulur, şakaya gülünür, yaş ile sosyal grup sınıflandırılır, evilik ile beslenir, vb.

Kültür insanın güçlü bir aracı ancak aynı zamanda kırılgan. Sadece aklımızda olduğundan kültür zaman geçtikçe sürekli değişir ve kolayca kaybolur. Şimdi eğer bir fosil ya da eski medeniyet’in küçük bir tarihi harabe bulursa hemen bu kültürün o zamanlar olduğu nasıl söylebilir mi?

Selasa, 29 Mei 2012



Okuduğum kadarıyla dünyamız dört buçuk milyar yıldan beri yaşar. En eski insan’ın fosili iki milyon yıl önce yaşıyordu. Beş bin yıllar önce harfler bulundu. 1945’te ilk atom bombası patladı. Şimdi, yanı yüzyıl içinde dünya’nın nufüsü dört kattan fazla arttı. Bir buçuk milyardan yedi milyara kadar ulaştı.

Geçen yüzyıl içinde insanlar gerçekten gelişti. Hem nufüs olarak hem de teknoloji olarak. Ancak onun dışında, çevremiz kirlendi ve dünyanın iklimi değişti. Çoğu insanlar dünya’nın bütün problemlerin hep insanın yüzünden olduğunu bağırır. Doğru mu?

Rabu, 11 April 2012




                İlk  okuldayken, meslek fikrimi üç kez değiştirdim. İlk tarihçi olmak istiyordum, sonra astronom olarak değiştirdim ve mezun olmadan önce bir futbolcu olmayı ettim. Orta okuldayken iki kere tekrar değiştirdim. Bir müzisyen ve bir iş adamı olmak istiyordum. Lisedeyken üç kere yine fikrim değişti. Ekonomist sonra biyolog  ve jeolog olmak istiyordum. Neden bu fikrim bu kadar çok değişti? Bir iş seçmek neden bu kadar zor?

Kamis, 29 Maret 2012




                Genellikle güney doğu Asya bölgesinde yaşayanlar batıl inançlara inaniyorlarç Sinemada korkunç filmler sürekli ızlenir. Çoğu yerli masallar ya da efsaneler tanrının hakında okunur. Kaza olduktan sonra saçma hikayeler yapılır. Ben onlara inanıp inanmadığıma tam emin değilim. Çünkü bir kez ben gerçek ‘üç harfliyi’ iki gözümle gördüm. O olayı şu an anlatmayacağım. Kısaca, bana göre inançlara inanmamak çok doğru değil. Çünkü vucudumuz sadece dört boyudu algılayabiliriz.

Sabtu, 28 Januari 2012



Ben en çok sadece yetmiş beş yaşına kadar yaşamak isterim. Anlıyoruz ki biz kendimiz ölmeye karar veremeyiz ama bu bir hayalim. Ben çok yaşlı olmak ve o şekilde yaşmakla kötü bir düşüncem vardı. Yaşlıyken coğu arkadaşlarım ölecek. Hiç kimse bulamam. Ayrıca enerjim azalacak. Az iş yapabileceğim. O yüzden yetmiş beş yıl benim için yeter.

Sabtu, 24 Desember 2011



Başarılı olmak herkes için farklı farklı anlama gelir. Birçoğumuza göre başarılı olmak için zengin alamalı ve güzel kadınla evlenmeli. Bazıları için ise başarılı olmak meşhur olmalı ve çok kitap yazmalı. Kim doğru ve kim yanlış. Bence, hedefleri belirlemek ve çok çalışmak başarılı olmak için en önemli şeylerdir.

Başarılı olmak isteyen kimse çok çalışmalı. Ama, çok calışmadan hedeflerine ulaşıp başarılı olamaz. Herhangi bir yönüyle yürüme gibi.

Rabu, 30 November 2011



Ben Gagas. Endonezya’nın Purwokerto şehrinde yaşıyorum. Purwokerto normal bir şehir. Bu sehir yedi yüz bin nüfuslu. Bu şehir’in havası her zaman yırmı ile otuz beş derece arası. Normal bir tropikal şehir gibi. Şehirde her gün saat altı buçukta trafik sıkışıklığı oluyor. Herkes okula veya ofise gitmesinden dolayı. Ama saat yedi’yi çeyrek geçeden sonra yollar çok boş. Çünkü halkın coğu öğrenciler veya memurlar ışe başlıyor.

Senin, 28 November 2011

Why our country never got really rich in the real world with all our natural resources? Should we put all the blame to the government? Or should we curse the foreign companies who took almost all our resources? Is it imperialism or is it capitalism that is causing this unfairness in the ability of mining our own goods because only rich (countries) gets the right to run the business. Is it right to always complain? Or is thinking positive noble enough for our dream of becoming a wealthy country to come true?

Selasa, 26 Juli 2011

Ariza sedang dalam perjalanan pulang dari kuliah sore itu. Bersama kawannya Faiq menunggangi mobil hitam menelusuri padatnya lalu lintas kota Semarang. Sudah dua puluh menit mereka berada di jalanan namun mereka tak kunjung sampai, padahal kos-kosan mereka hanya berjarak sepuluh kilometer dari sekolah. Panas daerah pesisir dan bising lalu lintas bercampur jadi satu. Bunyi klakson dan suara pengamen bukan barang langka lagi di ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini. Tibalah mereka pada satu perempatan, kebetulan lampu merah menghentikan mereka untuk beberapa puluh detik.

Kamis, 21 Juli 2011


Aku masih ingat hari itu ketika semua tertawa, bersuka cita menyambut usainya Ujian Nasional. Ujian yang dibangga-banggakan oleh dinas Pendidikan. Ujian yang setiap tahunnya begitu dipersiapkan oleh pihak sekolah. Aku masih ingat betul ketika bel tanda keluar berbunyi hampir semua kawanku berteriak “Ujian selesai! Horeeee!”. Aku pun tak mau kalah meluapkan emosiku, tepat saat bel berdering aku hentakan kakiku dari bangku kelas melompat kemudian lari keluar seraya melantunkan yel “Ujian Sialan ini sudah usai!”.

Selasa, 26 April 2011

Making mistake is something very common or I can say very universal in our lives. It is always considered as a wrong thing to do since making mistake effects other individuals as well. Although it brings negative effects to other people, there are good things coming out from people making mistakes. Here are two of my experiences that will surely make you believe that making mistake is not just an act of waste. It in fact brought some beneficial lessons which helps us improve our lives.